300 Juta Tahun Lalu, Hiu Ini Memangsa Bayinya Sendiri

Hiu purba yang hidup 300 juta tahun lalu merupakan predator paling berbahaya di laut. Kekejamannya tidak hanya diperuntukkan bagi mangsa dari spesies lain.

300 Juta Tahun Lalu, Hiu Ini Memangsa Bayinya SendiriFosil Orthacanthus yang dipamerkan di Naturmuseum Senckenberg, Jerman. (Daderot/Wikimedia Commons)

Hiu purba yang hidup 300 juta tahun lalu merupakan predator paling berbahaya di laut. Kekejamannya tidak hanya diperuntukkan bagi mangsa dari spesies lain, namun juga sesama spesies bahkan anak-anaknya sendiri!

Satu studi terbaru menunjukkan bahwa telah ditemukan bukti gigi hiu bayi dari fosil kotoran hiu Orthacanthus dari penggalian di lapangan batubara Kanada. Para ilmuwan belum yakin apa yang menyebabkan hiu memakan anak-anak mereka, namun mereka memperkirakan ini disebabkan kelangkaan pasokan makanan.

“Sudah ada bukti dari fosil isi perut hiu purba seperti Orthacanthus memangsa amfibi dan ikan lainnya, namun ini adalah bukti pertama yang mengindikasikan mereka juga memakan bayi dari spesies mereka sendiri,” papar Aodhan Ó Gogáin dari Trinity College Dublin, Irlandia.

Hiu jenis ini hidup di saat Eropa dan Amerika Utara masih berupa hutan lembap dekat Khatulistiwa. Orthacanthus meneror daerah rawa dan pesisir selama periode itu. Namun, teror juga meluas ke perairan air tawar.

“Selama invasi air tawar, hiu mengorbankan anak-anaknya untuk menemukan sumber daya selama penjelajahan ke dalam benua,” jelaas rekan penulis studi, Howard Falcon-Lang dari Royal Holloway University of London.

Menurut Falcon-Lang ada kemungkinan bahwa Orthacanthus menggunakan jalur perairan darat untuk melindungi pembibitan bayi, tetapi ketika sumber makanan menjadi langka bayi mereka dikonsumi sendiri.

“Orthacanthus sedikit mirip dengan hiu modern bullshark (hiu banteng),” kata Ó Gogáin. Ia dapat bermigrasi ke jalur belakang atau depan, antara rawa pesisir dan laut dangkal.

Penemuan kanibalisme pada hiu purba ini diterbitkan dalam jurnal Palaentology.

(K.N Rosandrani / seeker.comsciencealert.com)

Share from: National Geographics