71 Tahun Merdeka Untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Jusman Syafii Djamal

Kemerdekaan adalah jembatan emas kata Bung Karno. Jembatan agar generasi muda Indonesia jauh lebih genius dan jauh lebih cerdas dibanding generasi sebelumnya.

Kemerdekaan adalah jembatan emas untuk mencerdaskan Bangsa. Melahirkan primus interpares yang terbaik dari semua yang baik.

Karenanya makna kemerdekaan adalah bekerja keras tanpa henti dan tak kenal kata menyerah membangun ekosistem agar generasi muda yang jauh lebih cerdas dan jenius dari generasi orang tuanya memiliki kesempatan terbaik untuk ikut membangun Negeri , melahirkan kesejahteraan bersama, lebih produktip meningkatkan daya saing Bangsa.

Motto generasi anak saya yg sering ditanamkan orang tua dan guru gurunya adalah Selama hayat dikandung badan, cintailah Indonesia sepenuh jiwa.

Ketika asisten Thomas Alva Edison frustrasi dan menyerah pada keadaan, karena semua eksperimen yang dilakukannya mengalami kegagalan, ia mau pamit undur diri kepada Boss Thomas Alva Edison, sang inventor.

Yang diperoleh bukan restu melainkan rasa marah. Thomas dengan nada tinggi berkata :”Hei,dengarkan aku. Apa pernah engkau lihat aku merasa lelah dan putus asa. Aku sudah mengerjakan 50,000 experiment hanya untuk bertemu sebuah batteray”.

“Listen , I conducted 50,000 experiment to invent a new batteray”.

Tak heran jika kemudian Edison memberikan resep seorang inventor atau penemu teknologi. Ia katakan :”Genius is 99 percent perspiration, and 1 percent inspiration”.

Mereka yang jenius 99 persen waktunya dihabiskan untuk bekerja keras , berusaha tak kenal henti, coba lagi coba lagi, menjelajahi segala jenis kemungkinan untuk menemukan jalan tujuan yang ia tetapkan, hanya satu persen waktu digunakan untuk menemukan inspirasi”.

Thomas Alva Edison adalah seorang legenda dan ikon inventor. Ia hanya bersekolah tiga bulan, dan selebihnya belajar sendiri sebagai otodidak. Ia mulai bekerja ketika berusia 12 tahun.

Semasa hidupnya ia menghasilkan 2000 karya ciptaan. Baik berbentuk proses produksi maupun produk jadi. Lampu pijar sebetulnya ditemukan 25 tahun sebelum Edison oleh seorang insinyur atau engineer yang amat teliti dan selalu mengutamakan proses dan produk dengan tingkat presisi tinggi, Henirich Goebel, yang digunakan untuk menerangi ruang kerja nya di New York tahun 1854.

Apa yang ditemukan oleh Thomas Alva Edison adalah gagasan untuk membuat sebuah Kota seperti New York terang benderan dikala malam hari.

Edison menemukan metode untuk memproduksi lampu pijar secara massal.

Dalam buku karya Gene Ardair, “Thomas Alva Edison, Inventing the electric age”, terbitan Oxford University Press New York dikatakan :”Edison’s system of light and power was arguably the greatest of his accomplishments.

Yet, impressive as this achievement was, it represented only a fraction of his work. In a career that lasted more than 60 years, he received nearly 1,100 patents—more than any other inventor—for innovations large and small.

He played a critical role in the improvement of both the telegraph and telephone, and in addition to the electric power industry, he launched two others: sound recording and motion pictures.

His impact on the quality of modern life has been immeasurable”.

Pelajaran apa yang dapat dipetik dari Thomas Alva Edison adalah konsistensi dan kerja keras tak kenal putus asa untuk membuktikan dan mengimplemntasikan gagasan nya dalam kenyataan.

Ia tak pernah menyerah. Untuk menghasilkan potongan filament yang tepat bagi lampu pijarnya ia melakukan 6000 eksperimen di workshopnya.

Setiap detik, setiap saat sepanjang hidupnya ia memfokuskan dirinya untuk menciptakan satu gagasan besar dan mendedikasikan ribuan percobaan , trial and error untuk mewujutkan yang terbaik dari yang ia pikirkan. 99 persen kerja keras, satu persen inspirasi.

Karenanya Edison memiliki kredibilitas dan layak untuk berkata kepada generasi muda para engineer dan scientist masa kini : “To be genius, you have to invent something small every ten days and something big every six month”.

Hai anak muda, untuk melahirkan para Genius kita semua harus menyusun agenda hidup untuk menemukan satu hal kecil dalam setiap sepuluh hari dan setiap enam bulan munculkan satu yang besar.

Resep menjadi Genius Thomas Alva Edison, telah dicoba untuk diwujutkan oleh Putra putri terbaik Sekolah Menengah Atas dari seluruh Indonesia dengan terpilih menjadi anggota Paskibraka.

Mereka telah menyusun agenda hidup sejak lama dan bekerja keras untuk dipilih dari ribuan calon untuk mengibarkan bendera pusaka Merah Putih didepan Presiden di Istana Negara tgl 17 Agustus.

Karenanya alangkah sedihnya jika jelang rayakan 71 tahun Indonesia Merdeka jembatan emas itu tak dapat dinikmati oleh seorang anak remaja usia 16 tahun yg bernama Gloria yg kebetulan dilahirkan dari seorang ayah wn Perancis.

Ia harus melepaskan hasil kerja keras nya sebagai paskibraka sambil bertanya apa salah saya jika ibu sy yg warga negara Indonesia menikah dengan ayah bewarga negara Perancis ??????

Mohon maaf jika keliru. Salam

Catatan ttg resep Genius Thomas Alva Edison Disadur dari : Innovate Systematically, Learning from Alva Edison, tulisan Frank Arnold dalam bukunya :”What makes great leaders, Great

Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber