Akankah Transplantasi Kepala Manusia Berhasil Dilakukan?

Awal tahun lalu, ahli saraf asal Italia, Sergio Canavero mengejutkan dunia ketika ia mengumumkan akan melakukan transplantasi kepala manusia pertama di dunia. Operasi tersebut dijadwalkan pada bulan Desember 2017, dengan relawan Valery Spiridonov, ilmuwan komputer asal Rusia.

Lantas, bagaimana perkembangan persiapan operasi transplantasi ini? Canavero telah menjadwalkan untuk mengumumkan lebih detail tentang operasi kontroversial ini pada September mendatang. Sementara itu, Spiridonov, bersedia angkat bicara tentang operasi yang akan dijalaninya tersebut.

“Saya terus berdialog dengan Canavero, kami bertukar informasi, dan sejauh yang saya tahu, ia tengah menyiapkan pengumuman soal operasi ini September ini,” ungkapnya.

Spiridonov menderita penyakit saraf motorik langka yang dikenal sebagai penyakit Werdnig-Hoffmann, atau disebut juga dengan atrofi otot tulang belakang yang menyebabkan penderitanya kesulitan bergerak, bernafas dan menelan. Sebagian besar penderita penyakit ini meninggal dunia di tahun-tahun pertamanya, tetapi Spriridonov termasuk dalam 10 persen orang yang sanggup bertahan hingga usia dewasa.

Dia mengaku keluarganya mendukung penuh keputusannya untuk menjadi manusia pertama yang menjalani operasi tersebut dan berkata, “Jika Anda ingin sesuatu dituntaskan, Anda harus berpartisipasi di dalamnya.”

“Saya mengerti betul resiko operasi itu. Kami bahkan tak bisa membayangkan hal terburuk yang akan terjadi. Saya takut tak bisa hidup cukup lama untuk melihat operasi itu dilakukan pada orang lain,” ungkapnya.

Meski demikian, Spiridonov ingin mencoba kesempatan untuk memiliki tubuh yang baru sebelum penyakit yang ia derita membunuhnya.

Spiridonov yang juga merupakan ilmuwan teknologi, baru-baru ini mempresentasikan sistem autopilot pada kursi roda dalam konferensi di Moskow. Proyek yang disebut sebagai Clever Chair itu dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang dengan disabilitas.

Ia mengatakan, tak seperti operasi transplantasi kepala yang akan dijalaninya, proyek Clever Chair ditujukan agar dapat dimanfaatkan oleh khalayak luas.

“Saya ingin menolong sebanyak mungkin orang dengan teknologi yang tidak menimbulkan keraguan dan perdebatan,” katanya. Namun Spiridonov berharap, setidaknya proyeknya dan Canavero dapat saling melengkapi.

Detail operasi tersebut memang belum diumumkan, tetapi Canavero telah memberikan garis besar bagaimana operasi itu berjalan.

Pasien akan menerima donor tubuh sehat yang berasal dari pasien mati otak. Kepala pasien akan didinginkan hingga suhu minus 15 derajat Celcius. Setelah itu, kepala pasien dan donor secara bersamaan akan dipisahkan dari saraf tulang belakang menggunakan pisau ultra tajam. Kepala pasien kemudian disambungkan ke tubuh donor menggunakan senyawa polietilen glikol untuk memadukan ujung saraf tulang belakang.

Pasien akan berada dalam kondisi koma selama sekitar sebulan untuk mencegah pergerakan apa pun, sementara tulang belakang akan dirangsang dengan elektroda untuk memperkuat koneksi saraf. Canavero memprediksi pasien akan dapat berjalan dalam waktu setahun pasca operasi.

Meski rencananya sekilas terkesan matang, namun masih ada implikasi etis yang harus dihadapi oleh Canavero dan timnya. Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Xinhua, Alberto Delitala, presiden Italian Society of Neurosurgery, mengatakan, “Sikap kami sangat jelas, tema sentral dalam metode ilmiah menyatakan bahwa semua teknik baru harus berdasarkan pada uji eksperimen yang telah diajukan kepada komunitas ilmiah internasional sebelum diterapkan pada manusia. Sedangkan Canavero tak pernah berhasil membuktikan bahwa dia pernah berhasil melakukan transplantasi kepala pada hewan.”

“Jika Canavero benar-benar telah menemukan terobosan teknik dalam menyambungkan kembali saraf tulang belakang, mengapa dia tidak menerapkannya pada orang dengan cedera saraf tulang belakang dulu sebelum melakukan transplantasi kepala? Menurut saya, usulan Canavero mengenai transplantasi kepala hanyalah khayalan yang tidak mungkin dilakukan saat ini,” lanjutnya.

Terlepas dari pro kontra yang ada, jika operasi tersebut berhasil, prosedur perintis ini dapat memberikan harapan baru bagi ribuan orang yang lumpuh dan cacat.

(Lutfi Fauziah/Sumber: medicaldaily.com, dailymail.co.uk)

Share from: National Geographics