Apakah Perubahan Iklim Dorong Ikan Lele di Australia Memburu Tikus?

Peneliti dari Murdoch University menemukan ikan lele jenis lesser salmon dari Sungai Ashburton di Australia Barat dengan perut penuh dengan tikus.

Apakah Perubahan Iklim Dorong Ikan Lele di Australia Memburu Tikus?Ilustrasi ikan lele. (Thinkstockphoto)

Ikan lele di sebuah sungai yang terletak di Australia memakan sesuatu hal yang tidak biasa: tikus.

Peneliti dari Murdoch University menemukan ikan lele (lesser salmon catfish) dari Sungai Ashburton di Australia Barat dengan perut penuh dengan tikus.

Ikan lele yang menyebar ke bagian utara Australia itu, diketahui hanya memakan tumbuhan dan serangga saja. Namun tikus menjadi suatu hal yang megejutkan dalam menu makanan mereka.

Apakah tikus teralu dekat dengan sungai? Atau mereka tenggelam dalam banjir?

Apakah tikus teralu dekat dengan sungai? Atau mereka tenggelam dalam banjir?

Para peneliti belum dapat memastikan kemungkinan tersebut.

“Ikan lele mungkin memakan apa yang tersedia di sekitar mereka,” jelas Erin Kelly, kepala penelitian ikan. “Tikus ini adalah spesies yang memiliki sistem sarang dalam pasir di hulu sungai. Jika tempat tinggal mereka banjir dan hancur ke sungai, kemungkinan ikan lele mengambil keuntungan dari kejadian itu.”

“Kedua spesies itu merupakan hewan nokturnal. Jadi memungkinkan jika ikan lele aktif berburu tikus di hulu sungai,” tambah Kelly.

“Perubahan pola cuaca dan peningkatan level air pada aliran sungai di Australia ternyata menjadi ancaman bagi keberagaman hayati yang unik di ekosistem ini.”

Bagi para peneliti, kasus ini adalah yang pertama kalinya terlihat dengan intensitas yang tinggi, seekor ikan lele mengonsumsi mamalia.

Hal itu lantas membuat mereka mulai mempelajari jaringan makanan yang kemungkinan telah mengalami perubahan, terutama akibat dari menghangatnya kondisi lingkungan di Australia.

“Ini meningkatkan perhatian kita pada iklim hangat Austarlia,” ujar Kelly. “Perubahan pola cuaca dan peningkatan permukaan air pada aliran sungai di Australia ternyata menjadi ancaman bagi keberagaman hayati yang unik di ekosistem ini.”

(Annisa Hardjanti. Sumber: Discovery News)

Share from: National Geographics