Disrupsi Pendidikan

Wicak Amadeo

Internet sedang merobohkan tembok-tembok tinggi persekolahan. Belajar semakin tidak membutuhkan formalisme persekolahan. Google sedang menggusur guru jika guru hanya berfokus kepada pengalihan pengetahuan. Era belajar mandiri (otodidak) dan home schooling sedang kembali menjadi arus besar. Segera dicatat bahwa sebelum era persekolahan lahir sekitar 200 tahun silam, masyarakat belajar tidak melalui sistem pendidikan masal melalui persekolahan. Di Indonesia dikenal sistem pondok dengan model belajar sorogan di bawah bimbingan seorang kiai atau empu. Keterampilan diperoleh melalui magang. Belajar dan bekerja tidak dipisahkan secara tegas. Bahkan, bekerja sejak anak-anak dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Di AS, masyarakat lebih banyak membaca di era Benjamin Franklin daripada pada zaman Clinton, Bush, dan Obama. Persekolahan masif melalui program No Child Left Behind tidak berhasil mengembalikan tingkat literasi ke zaman Ben Franklin.

Memaksakan belajar hanya di sekolah justru mempersempit akses belajar bagi banyak warga belajar, apalagi di daerah terpencil dengan infrastruktur yang jauh dari memadai. Begitu belajar diubah menjadi layanan pendidikan melalui persekolahan, pendidikan menjadi komoditas yang langka by definition. Dalam cetak biru sistem pendidikan nasional (sisdiknas) baru ini, fokusnya adalah perluasan kesempatan belajar (learning opportunities), terutama melalui jejaring belajar yang lentur dan luwes. Sekolah bisa menjadi salah satu simpul dalam jejaring belajar itu. Simpul-simpul lain yang penting adalah keluarga dan beragam satuan pendidikan masyarakat. Misalnya, Pramuka, karang taruna, klub silat, dan sanggar seni. Satuan-satuan bisnis di masyarakat juga memberikan kesempatan magang kepada warga belajar. Pendidikan untuk semua mensyaratkan pendidikan oleh semua.

Di antara simpul-simpul belajar itu, yang paling utama adalah keluarga. Keluarga harus diposisikan dan diperkuat sebagai satuan pendidikan yang sah. Teladan karakter orang tua, asupan gizi yang cukup, serta tunjangan ibu hamil dan menyusui akan menjadi pendidikan yang jauh lebih efektif daripada program pendidikan anak usia dini (PAUD), apalagi utak-atik kurikulum. Pembentukan Direktorat Pendidikan Keluarga baru-baru ini oleh Kemendikbud harus diapresiasi walaupun penguatan keluarga harus melibatkan juga banyak sektor lain. Misalnya, kesehatan, ketenagakerjaan, perumahan, dan perhubungan. Kesehatan, upah buruh, rumah, dan mobilitas yang layak bagi warga belajar akan memperkuat keluarga.

Sekolah semula diciptakan sebagai instrumen revolusi industri yang menghasilkan produksi masal beserta polusinya. Era industri besar itu kini surut. Kita sedang bergerak menuju era kreatif yang menghargai keragaman, bukan keseragaman. Produksi bakal semakin berskala kecil, berskala rumahan. Produk rumahan tidak akan lagi murahan. Keluarga bakal menjadi satuan yang penting dalam pembangunan. Kita perlu memperkuat itu agar menjadi satuan edukatif sekaligus satuan produktif.

Menghadapi abad XX1 ini, kita harus berani mereformasi sistem pendidikan nasional dari dominasi persekolahan. It takes a village to raise a child. Tripusat pendidikan Ki Hadjar Dewantara perlu kita revitalisasikan. Kita perlu memulai dari setiap keluarga Indonesia di mana pun mereka berada, yang di dalamnya belajar dirayakan dalam kegembiraan penuh cinta.
.
The Power of Yet. Seseorang bukan gagal, tapi diberlakukan kategori ”belum mahir”. Ya , tidak ada lagi angka merah atau nilai buruk. Yang ada hanya kata ”belum” saja.
.
IndonesiaX adalah sebuah gerakan untuk memperluas akses pendidikan bagi masyarakat melalui penyelenggaraan kursus secara terbuka, online dan masif, atau biasa disingkat massive open online course (MOOC). Motonya, ”Enriching Live Through Education.” Anda, dan siapa saja, bebas bergabung dengan IndonesiaX. Syaratnya hanya satu: memiliki akses internet.
.
Menurut mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, ”Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Sebelum menjadikan pendidikan sebagai ”senjata” untuk mengubah dunia, kita ubah dulu wajah dunia pendidikan kita agar menjadi lebih memerdekakan, membebaskan dan memanusiakan anak-anak didik kita.

About ekoharsono

Just a simple person….that’s all

Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber