Home Education dan Ijazah

Harry Santosa

Beberapa pertanyaan menarik tentang Home Education namun sebenarnya membuat miris karena ini terkait fitrah keimanan para orangtua yang tidak tumbuh

Diantara pertanyaannya adalah

“Kalau anak saya di Home Education kan, kemudian dia tidak punya ijasah, kemudian orangtuanya meninggal dunia, lalu bagaimana kelanjutan pendidikannya?. Bagaimana keluarga besar akan bereaksi negatif karena meninggalkan keturunan tanpa ijasah? Bagaimana mereka kemudian melanjutkan pendidikan anak anak yatim itu tanpa ijasah?”

______

Perkara ini sesungguhnya perkara keimanan dan cara pandang yang tidak benar tentang pendidikan.

1. Diantara aspek keimanan adalah keyakinan bahwa setiap anak atau manusia sepanjang hidupnya telah Allah siapkan rezqinya. Bahkan Raslulullah SAW dilahirkan yatim dan diminta jangan khawatir dan banyak mensyukuri nikmat.

Sesungguhnya Hari Akhir itu lebih baik bagi kamu daripada yang sekarang (permulaan). Kelak Tuhanmu pasti memberi kamu karunia, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapati dirimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi kamu; mendapati dirimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberi kamu petunjuk; Dia mendapati dirimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberi kamu kecukupan?

Jikapun ayahnya diwafatkan sebelum anak mereka lahir, atau terus dihidupkan sampai anak mereka lahir dan besar, sesungguhnya Allahlah Murobby atau Guru sejati bagi anak anak kita sepanjang hidup mereka. Karena Allahlah sesungguhnya yang paling tahu tentang aspek fitrah anak anak kita.

Sepanjang semua aspek fitrah mereka tumbuh indah, mereka akan memcapai peran peran peradaban terbaik, baik di dalam keluarga sebagai ayah atau ibu sejati, di dalam masyarakat sebagai pemimpin sejati dalam bidangnya, di alam sebagai pelestari dan perawatnya sejati dstnya.

Fitrah yang lurus dan terawat akan menuntun kepada peran, lalu peran yang beradab akan memberikan banyak manfaat,manfaat bagi apapun, dan itu semua akan mendatangkan rezqi.

Apakah anak yang berijasah namun menyimpang fitrahnya dapat hidup dengan bermanfaat?

2. Diantara aspek keimanan adalah keyakinan bahwa tiap anak telah diinstal potensi fitrah sebagai bekal atas konsekuansi dari tugas tugas (misi) sebagai seorang khalifah dan seorang Hamba Allah.

Setiap anak sudah Muslim sebagaimana hadits “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah

Setiap anak sudah bersyahadah Rubbubiyah sejak di alam rahiem (QS 7:172)

Setiap anak sudah punya jalan suksesnya masing masing sebagaimana ayat “Katakanlah, bahwa setiap manusia beramal menurut Syaqilahnya (bakat pembawaannya) masing masing (QS 17:84).

_”Dan org2 yg berjihad untuk mencari keridaan kami, kami akan tunjukkan kepada mereka jalan2 kami. Dan sungguh Allah beserta org2 yg berbuat baik”_ *[QS 29:69]*

Jadi jika mensyukuri potensi fitrah anak anak kita dan mendidiknya atas potensi fitrah itu sehingga gairah cintanya pada Allah membuncah buncah, gairah cintanya pada belajar dan ilmu sangat antusias, gairah mendalami sifat uniknya dstnya ketika kita masih hidup, maka kita tidak perlu khawatir.

Ketika fitrah mereka tumbuh indah di usia 0-7 tahun saja, mereka akan terus belajar sepanjang hidupnya, mereka akan terus mencintai kebenaran dan membelanya sampai mati, mereka akan terus percaya diri mengembangkan sifat uniknya menjadi peran peran peradaban terbaik dstnya.

Apakah anak yang berijasah sudah pasti tahu bakatnya? Suka dan bergairah belajar tanpa pamrih hingga menjadi karya karya peradaban?

3. Diantara pesan dalam ayat di atas adalah “Tidak menghardik anak yatim” . Ini bermakna bahwa secara teknis harus ada komunitas yang mendidik fitrah anak yatim ketika ayahnya atau ayahibunya dipanggil Allah SWT. Maka semasa hidup bangunlah komunitas pendidikan yang saling tolong menolong, nasehat menasehati, titip menitip dalam pendidikan anak anak secara berjamaah.

Para Sahabat Nabi SAW bahkan menikahi janda janda dari Sahabat lainnya yang lebih dahulu dipanggil Allah, semata mata bukan karena hawa nafsu, namun untuk hadirnya sosok ayah dalam kehidupan para yatim.

Apakah ijasah tanpa komunitas dapat memberikan kehidupan terbaik bagi anak anak kita?

Ambilah ijasah jika diperlukan namun bukan sesuatu yang wajib sehingga mengganggu keimanan kita dan kebersyukuran kita.

Yuk AyahBunda, yakinlah pada Allah SWT, dan barengi keyakinan itu dengan mensyukuri fitrah anak anak kita kemudian segeralah mendidik sejak dini atas potensi fitrah fitrah yang Allah karuniakan. Kembalilah menjadi orangtua sejati, yang berani menjawab panggilan untuk menjadi orangtua sejati sebagaimana Kitabullah mengamanahi Fitrah dan Adab. Mari bersama meretas gerakan bersama dalam mendidik anak secara bersama (community based education) di lingkungan kita

Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber