Individuasi Sebelum Sosialisasi

Disarikan oleh Wicak Amadeo

Adriano Rusfi

Seorang doktor geoscience lulusan Jepang dan pakar kebencanaan geologis itu mengeluh. Ia kecewa, bahwa setelah berkali-kali mensosialisasikan dan mengajarkan perilaku waspada bencana di sejumlah daerah, ternyata perubahan yang diharapkan jauh panggang dari api. Ternyata, setiap kali bencana datang maka perilaku lama kambuh kembali : tak kunjung waspada, panik dan munculnya tindakan-tindakan bodoh secara massal. Sehingga yang terjadi adalah berjatuhannya korban dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada semestinya. Dan itu kambuhan sifatnya.

Sementara itu, ada kisah tentang gempa di Bantul sekian tahun silam. Semua panik berhamburan pasca shubuh itu. Yang tinggal di Jogja berlarian naik menuju Kaliurang, karena takut Tsunami. Yang tinggal di Kaliurang tergopoh turun ke Jogja, karena cemas letusan Merapi. Lalu kedua massa panik itu “berbenturan” di Pakem.

Bagaimana dengan mereka yang sering mengikuti sosialisasi tanggap bencana?

Tetap panik !

Bagaimana dengan mereka yang puluhan tahun mengaji tentang tawakkal?

Sama saja !!

Bagaimana dengan langganan majelis taklim yang belajar agar tak takut mati?

Sami mawon !!!

Ya, tak ada gunanya !!!

Karena bangsa ini individualitasnya rapuh dan egonya lemah. Mereka sangat terpengaruh dan dikendalikan oleh stimulus dari luar. Kontrol diri begitu lemah. Begitu ada gempa, langsung bereaksi dan kewarasan hilang. Begitu ada isyu, langsung bertindak dan nalarpun lenyap. Begitu orang lain panik, maka iapun segera terbawa panik dan akal sehatnya pudar. Jadi, walaupun di pesawat kita seringkali belajar prosedur kedaruratan dari pramugari, jangan berharap itu akan terpakai saat situasi darurat sesungguhnya. Kita akan dihipnotis oleh peristiwa, dan semua doktrin serta ajaran pupus terlupakan.

Jadi, saudara-saudara, masihkah individualitas bangsa ini akan terus dikebiri demi ajaran sakti tentang sosiabilitas, kebersamaan, sama-sama, dan kesamaan?

Masihkah anak-anak di bawah tujuh tahun kita dipaksa memikul doktrin tentang kepenurutan, keakuran, kekompakan dan harmoni?

Sungguh, sebagai ummat manusia kita sangat butuh tentang sosiabilitas, sinergi dan kebersamaan. Namun itu tak seharusnya ditegakkan dengan menelikung individualitas anak-anak kita. Ini bukan tentang egoisme, tapi tentang kontrol diri.

Anak-anak yang dididik secara general justru akan punya hasrat sosiabilitas rendah, karena merasa dirinya telah jadi toserba : one stop shopping.

Anak-anak yang dididik secara khas, berbeda dan individual, kelak justru akan sangat membutuhkan orang lain, kebersamaan dan sinergi.

Sosiabilitas adalah keniscayaan saat seorang anak sadar bahwa dia memiliki sesuatu yang dibutuhkan orang lain, dan orang lain memiliki sesuatu yang dia butuhkan. Interdependency lahir secara alami pada anak-anak independent.

MEMBANGUN INDIVIDUALITAS

Bagaimana membangun individualitas pada anak usia di bawah 7 tahun?

Pertama, perlakukan tiap anak secara spesial mulai dari panggilan, pakaian, perlakuan dsb.

Kedua, hindari pendidikan yang menyeragamkan. Biarkan si Abubakar khas dengan shiddiq-nya, biarkan Si Umar dengan furqan-nya, biarkan Si Ali dengan intelektualitasnya, biarkan Si Utsman dengan kedermawanannya.

Ketiga, jangan suka membandingkan anak yang satu dengan yang lainnya, kecuali untuk ketaqwaan.

Keempat, ijinkan anak untuk memiliki property dan wilayah pribadinya sendiri

Kelima, bantu anak agar memiliki visi dirinya sendiri dalam rangka membangun self-concept. Misalnya : aku adalah Si Istiqamah.

Keenam, berikan kasus kepada anak. Biarkan dia menyelesaikan dengan caranya sendiri.

Ketujuh, berikan alat-alat ekspresi diri pada anak. Biarkan dia memilih media ekspresi diri yang paling tepat.

Kedelapan, ijinkan anak berbeda pendapat dengan saudaranya dan orangtuanya. Biarkan dia punya pandangan sendiri, sejauh ma’ruf.

Kesembilan, untuk setiap masalah, keinginan, kebutuhan dsb, sediakan beberapa alternatif agar anak bisa memilih yang pas baginya.

Kesepuluh, ijinkan dan biarkan anak dengan sikap dan kesendiriannya dalam realitas sosialnya, walau ia harus di-bully teman-temannya. Kuatkan dan besarkan hatinya untuk mengambil resiko tersebut.

TERLANJUR

Bagaimana jika seseorang sudah “kadung” dewasa saat menyadari hal ini?

Kabar baiknya, yang perlu dikembangkan adalah kepercayaan diri, penguatan sistem nilai dan integritas.

Sesekali, berikan dorongan kepadanya untuk melakukan kiprah-kiprah individual (one man show) dan berani tampil beda. One man show itu tidak selalu bermakna negatif.

Di sisi lain, orangtua juga harus menghormati privacy anak. Wilayah rahasia anak jangan selalu diobok-obok dengan alasan “waskat” atau “pengawasan melekat”. Jika Allah meminta orang dewasa untuk menyembunyikan aibnya, maka orangtua jangan malah memaksa membongkarnya. Jika orangtua hobby mengintervensi wilayah privat anak, maka orang lainpun mudah mengintervensinya.

(Belajar Bersama Sang Guru)

– Adriano Rusfi –

Wicak Amadeo's photo.

Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber