Ini Cara Pengembang Perumahan ‘Bersihkan’ Lahan

Kota Pontianak dalam dua minggu terakhir kembali diselimuti kabut asap akibat pembakaran lahan. Meski kualitas udara masih dalam kategori sedang dan belum membahayakan, namun perlu diantisipasi berbagai pihak, terlebih saat ini memasuki musim kemarau.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kualitas partikukat udara Pontianak pada hari Senin (22/8/2016) sempat berada di zona warna cokelat dengan angka di atas 150 dan masuk ke kategori tidak sehat pada pagi hari. Kualitas udara perlahan berangsur membaik menjelang siang hingga sore hari.

Menyikapi kondisi kabut asap saat ini, Wali Kota Pontianak Sutarmidji mengatakan, saat ini belum mengeluarkan imbauan kepada sekolah-sekolah untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.

“Kalau sekolah masih belum, karena saat ini masih kualitas udara masih dalam kategori sedang,” ujar Sutarmidji, Senin (22/8/2016).

Terkait dengan penyebab terbakarnya lahan, ia mengatakan itu unsur kesengajaan.

“Yang terjadi sekarang kan pembakaran lahan dan secara sengaja, saya pastikan ini dibakar, bukan terbakar. Kalau berladang tidak terlalu banyak juga, luasnya juga tidak seberapa, hanya beberapa titik saja di Kota Pontianak,” ujarnya.

“Ada indikasi developer melakukan pembersihan lahan dengan cara membakar untuk membangun perumahan. Kalau itu bersihkan lahan untuk perumahan, maka saya tidak akan berikan izin selama tiga tahun untuk pembangunan di kawasan yang terbakar,” imbuhnya.

Untuk itu, sambung Sutarmidji, pihak pemkot akan memasang plang di bekas lahan yang terbakar untuk menjelaskan bahwa kawasan tersebut berada di bawah pengawasan pemda.

Bagi developer yang memang kedapatan membakar lahan, juga akan dimintai biaya untuk memadamkan api.

Saat ini, upaya pemadaman masih dilakukan di sejumlah titik di Pontianak, di antaranya di Jalan Parit Haji Husin II dan Sungai Raya Dalam.

Upaya pemadaman melibatkan berbagai pihak, mulai unsur TNI,Polri, pemadam kebakaran swasta, Manggala Agni dan masyarakat setempat.

“Kasihan juga jajaran TNI/Polri, ancamannya copot jabatan kalau tak bisa tangani Karhutla. Masyarakatnya sih, cuek, ndak perduli. Ketika api sudah besar baru ribut, waktu lihat orang bakar diam-diam aja, coba pas lihat orang bakar tangkap ramai-ramai,” ketusnya.

(Yohanes Kurnia Irawan / Kompas.com)

Share from: National Geographics