Kehadiran, Keridhaan dan Kasih Sayang Yang Tulus Yang Dibutuhkan Anak

Kehadiran, Keridhaan dan Kasih Sayang Yang Tulus Yang Dibutuhkan Anak. Anak Yang Dipenuhi Keridhaan Dan Kecintaan Orang Tuanya Akan Membangkitkan Semua Fitrah Dalam Dirinya

Cinta Dan Ridlo Orang Tua

Sam, seorang Ayah dari anak gadis berusia 7 tahun. Sang anak gadis sudah ditinggal ibunya sejak lahir. Namun, Sam, sang ayah selalu hadir dengan penuh cinta dan perhatian sepanjang hidup anak gadis itu sejak masih bayi merah sampai kini berusia 7 tahun. Bahkan Sam selalu membawa anak gadis itu sejak kecil ke tempat kerjanya sebagai pelayan Starbuck.

Anak gadis itu bernama Lucy, sangat cerdas bahkan melampaui ayahnya. Ya tentu saja, kecerdasan Lucy melampaui ayahnya karena Sam berbeda dengan ayah pada umumnya, Sam menderita Down Syndrom, kecerdasannya menurut para pakar hanya sekelas anak usia 7 tahun.

Dalam membesarkan Lucy, Sam ditemani beberapa teman-temannya yang juga Down Syndrom dan seorang nenek tetangga yang ahli piano. Semuanya menyayangi Lucy sebagai sebuah keluarga. Mereka bahu membahu membesarkan Lucy dengan penuh sabar dan cinta.

Sam, layaknya ayah yang baik, selalu membacakan buku cerita menjelang tidur bagi Lucy, sejak Lucy masih bayi. Walau buku cerita yang dibaca itu itu saja, bagi Lucy keberadaan Sam di sisinya adalah segalanya.

Lucy yang beranjak berusia 7 tahun, mulai mengerti, ia membiarkan ayahnya membacakan buku cerita yang selalu sama karena ayahnya hanya bersemangat membacakan buku cerita yang hanya dipahami diri ayahnya saja. Lucy sadar dan paham kondisi ayahnya, dia cinta ayahnya sebagaimana ayahnya menyayanginya dengan tulus, bagi Lucy kehadiran Sam setiap malam, setiap hari dalam hidupnya adalah segalanya.

Suatu hari Lucy diambil oleh petugas sosial karena Sam dituduh tidak akan mampu membesarkan anaknya setelah berusia 7 tahun, karena kecerdasan Sam tidak pernah akan lebih dari anak 7 tahun, sementara Lucy, menurut petugas sosial, memerlukan ayah normal dengan kecerdasan normal orang dewasa.

Walau semua saksi yang dihadirkan menyatakan Sam sesungguhnya mampu mendidik Lucy, karena Sam selalu ada untuk Lucy dan mencurahkan semua kasih sayangnya, dan juga pernyataan seorang saksi yang hidupnya sukses dan bahagia berpendidikan tinggi, padahal dibesarkan ayah ibu yang down syndrom, pihak negara dalam hal ini penuntut tetap menolak hak asuh Sam terhadap Lucy.

Dalam membesarkan Lucy, Sam juga dituduh terkadang mengalami kebingungan dan kehabisan akal, terkadang agak emosional dan panik dsbnya. Pembela Sam dalam persidangan mengatakan siapa sih orang tua yang tidak pernah mengalami hal demikian, hal itu wajar saja dialami orang tua manapun termasuk dirinya.

Akhirnya persidangan mengalahkan Sam dan mengizinkan Lucy untuk diadopsi keluarga lain yang dianggap memiliki kecerdasan normal agar mampu mendidik Lucy lebih baik.

Sepenggal kisah di atas menggambarkan betapa banyak orang yang menganggap bahwa untuk membesarkan anak menjadi sukses, diperlukan orang tua yang pintar, cerdas, mampu mengajarkan banyak hal kepada anak anaknya.

Mereka lupa sesungguhnya setiap anak memiliki fitrah unik masing masing sejak lahir yang merupakan keistimewaannya yang khas. Mereka lupa bahwa setiap orang tua, walau down syndrom sekalipun, telah Allah tanamkan dan penuhi dadanya dengan cinta dan hikmah yang banyak.

Tiada khalifah cilik sejak lahir yang ditelantarkan Allah swt, kecuali manusia tidak amanah yang menelantarkannya.

Yang dibutuhkan setiap anak anak kita, bukan kecerdasan kita, tetapi adalah kehadiran, keridhaan dan kasih sayang yang tulus dari kita, keduaorang tuanya, agar semua fitrah keistimewaan yang Allah swt karuniakan itu keluar dan bersinar terang menerangi sekitarnya dengan rahmat dan manfaat atas keistimewaan fitrahnya itu.

Anak anak yang dipenuhi keridhaan dan kecintaan orang tuanya akan bangkit semua fitrah dalam dirinya. Fitrah keimanannya akan menguatkan akar jatidirinya, fitrah belajarnya akan tumbuh subur, fitrah bakat dan akhlaknya akan berbunga merekah indah semerbak harum mewangi.

Kisah Sam belum selesai, ternyata orang tua angkat Lucy, mulai menyadari betapa dekat dan lekat hubungan Lucy dan ayahnya Sam. Orang tua angkat Lucy menyadari betapa kecerdasan orang tua bukan bekal penting segalanya bagi tumbuhnya kecerdasan bahkan bakat dan akhlak anak-anaknya.

Lucy bahkan kehilangan gairah belajar dan gairah hidupnya, walau orang tua Lucy menyediakan semua fasilitas kecerdasan yang dibutuhkan.

Lucy akhirnya dikembalikan kepada Sam, pengadilan memutuskan Sam terbukti mampu mendidik walau belum tentu mampu mengajar. Karena yang dibutuhkan Lucy hanyalah cinta dan kedekatan yang membuatnya bergairah menjalani hidup dan gairah belajar sendiri sepanjang hidupnya

Bekal penting kedua orang tua adalah keridhaan dan kebersyukuran yang dalam yang menghadirkan cinta dan keshabaran, ketenangan dan keoptimisan untuk mendidik anak anaknya. Inilah yang diperlukan anak anak sepanjang hidupnya untuk menjalani hidupnya di atas fitrahnya dengan konsisten dan bahagia.

Keridhaan Sam mendampingi Lucy sejak bayi sehingga menghadirkan kelekatan yang dalam yang membuat Lucy menjadi anak yang bahagia dan cerdas adalah kunci semuanya. Kisah ini menginspirasi banyak orang, termasuk pengacara wanita yang membela Sam walau awalnya juga apriori terhadap kemampuan Sam.

“Lihatlah saya, Sam, saya wanita cerdas dan pandai, selalu memenangkan kasus hukum, sukses dalam karir bahkan hidup kaya…. namun sesungguhnya saya wanita paling gagal dalam hidup. Suami saya selingkuh, anak anak saya bahkan menjauh dari saya…”.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

pendidikan peradaban,pendidikan fitrah,fitrah keyakinan,fitrah bakat,sumber rejeki,kreativitas anak,pendidikan anak di rumah,guru dan murid,orang tua dan anak,karakter anak,dunia pendidikan,renungan pendidikan,ust.Harry Santosa,Fitrah Based Education,Home Education,Home Schooling,ujian nasional,kurikulum sekolah,manusia jenius,golden age.

Share from : Ustadz Harry Santosa | berbagai sumber