Kemampuan Membuat Prioritas

Yeti Widiati

Ada salah satu kemampuan berpikir yang dibutuhkan oleh anak. Yaitu kemampuan membuat prioritas. Membedakan hal yang penting dan yang kurang penting. Kemampuan ini membutuhkan kemampuan berpikir analisis, sintesis dan juga antisipasi (Cek kembali tulisan saya MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR ANAK)

Saya melihat kebutuhan kemampuan membuat prioritas ini menjadi sangat urgen di masa kini. Karena di masa sekarang kita dibanjiri oleh informasi yang luar biasa banyak. Pilihan jauh lebih beragam dibandingkan di masa lalu.

Salah satu contoh saja tentang pilihan channel TV. Lebih dari 40 tahun lalu, TV yang bisa ditonton hanya 1. Itu pun baru ada siarannya jam 6 sore sampai jam 8 malam. Puluhan tahun kemudian, pilihan ada ribuan. Bukan hanya channel TV yang banyak, tapi ada juga ratusan channel TV kabel, video, dan ribuan video YT.

Tidak jarang saya mendengar orangtua dan guru mengeluhkan mengenai perubahan ini. Menyalahkan berbagai pihak terutama media, pemerintah, dll. atas situasi ini. Kemudian bernostalgia, memimpikan masa kini kembali lagi ke masa lalu di mana hanya ada satu TV.

Padahal yang namanya perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Menghadapi situasi yang “tidak bisa” diubah, maka kita perlu melakukan coping problem.

Setiap masa membutuhkan kemampuan yang lebih menonjol untuk bersikap adaptif, sehingga bisa survive di masa tersebut. Pada zaman batu, kemampuan penting yang dibutuhkan adalah kemampuan fisik. Sementara pada zaman pertanian, maka kemampuan yang lebih dibutuhkan adalah kesabaran. Pada zaman teknologi, maka ketrampilan teknik menjadi primadonanya.

Nah oleh karena itu, untuk masa sekarang, salah satu kemampuan berpikir yang sangat dibutuhkan adalah kemampuan memilah informasi. Membuat prioritas yang berujung pada keberanian memilih dan mengambil keputusan.

Saya kerap melihat, anak-anak yang memperoleh skor rendah dalam kemampuan ini, menjadi peragu, mudah bingung dan cemas. Terlebih bila orangtua mereka adalah orangtua yang senang menyalahkan. Lebih sengsara lagi kalau ternyata orangtuanya pun tidak bisa membedakan mana yang prioritas atau bukan. Sehingga mendahulukan hal-hal permukaan dan bukan hal mendasar. Mendahulukan nilai angka daripada kemampuan. Mendahulukan tampilan daripada karakter dan akhlak. Mendahulukan bungkus daripada isi. Mendahulukan aksesori daripada substansi.

Orangtua yang kerap memaksakan kehendak, hanya memberikan satu pilihan atau sebaliknya orangtua yang permisif, membebaskan tanpa memberi batasan, berpeluang membuat anak menjadi kehilangan sense atau rasa mengenai apa yang sebetulnya perlu didahulukan. Bila anak tidak memiliki kemampuan prioritas, maka ia menjadi sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Mudah juga terpicu emosinya (bingung, panik, cemas). Dan sulit mengambil keputusan.

Bagaimana kita bisa membimbing anak-anak kita untuk bisa mengembangkan kemampuan membuat prioritas? Sebagai catatan saja, bahwa kemampuan ini bisa dikembangkan sedini mungkin sejak balita. Tentunya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan kemampuan berpikir mereka.

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak memiliki kemampuan menentukan prioritas.

1. TUMBUHKAN KEBERANIAN ANAK UNTUK BERANI MEMILIH
Godaan dan obsesi terbesar para orangtua adalah mengatur. Merasa sebagai orang yang paling tahu hal terbaik untuk anak, maka orang tua seringkali ingin anak patuh dan mengikuti orangtuanya. Sehingga nasihat lebih sering bersifat instruksi satu pilihan.
Atau sebaliknya. Keinginan untuk tidak membebani anak, malah membuat kondisi sebaliknya. Anak dibebaskan untuk menentukan sendiri tapi tidak diberikan batasan yang jelas.

“Jadi, gimana dong …? Diatur salah, dibebaskan juga salah”, itu keluhan sebagian orangtua.

Berikan anak kesempatan memilih namun berikan juga batasan.
Misalnya, kita ingin anak sarapan sebelum sekolah.
Mengatakan “Ayo makan nasi gorengnya sekarang!” kontraproduktif jika anak sedang tidak mood makan nasi goreng pada saat itu.
Sebaliknya, mengatakan “Kamu mau sarapan pakai apa?” Juga akan merepotkan kalau anak ternyata mengajukan pilihan yang tidak ada.
Saya biasanya mengatakan, “Kamu mau sarapan nasi goreng atau roti bakar?” Maka anak diberikan kesempatan memilih, akan tetapi tetap ada batasan.

Setelah lebih besar, dan memiliki kemampuan lebih banyak, biasanya saya mengajukan pilihan yang lebih lebar. “Di kulkas ada telur, sosis, tepung terigu, kamu mau buat apa untuk sarapan?

Keputusan yang diambil sendiri oleh anak, biasanya menyebabkan anak lebih merasa terlibat dan bertanggung jawab daripada bila keputusan itu diambil oleh orang lain. Tantangan bisa terjadi pada orangtua yang ingin segala hal sama dan seragam. Tidak nyaman dengan perbedaan. Tantangan juga bisa terjadi pada orangtua yang kurang sabar. Ingin serba cepat dan ingin anak mengambil pilihan yang sama dengan orangtua.

Bila anak sudah bisa memilih hal-hal yang sederhana. Maka jauh lebih mudah ketika ia harus memilih hal-hal yang lebih rumit.

2. JELASKAN DAN DISKUSIKAN DENGAN ANAK MANA HAL YANG PENTING DAN MANA YANG KURANG PENTING.

Anak perlu memiliki sense mengenai seberapa penting suatu hal. Sehingga dia tahu seberapa besar effort/usaha yang harus dikeluarkan olehnya.

Penting dan tidak penting berarti berkaitan dengan FUNGSI dan MANFAAT. Maka jelaskan beragam fungsi dan manfaat setiap hal. Entah itu benda, perilaku, karakter, dll.

Pada anak balita, permainan mencari bagian gambar yang hilang, adalah salah satu cara yang baik dan menyenangkan buat anak.
Misalnya, tunjukkan gambar sepeda yang tak ada rodanya. Dan tanyakan, “Mana bagian yang hilang yang seharusnya ada?” Apapun jawaban si anak itu adalah proses belajar. Bila dia tidak tahu atau bingung, maka tanyakan, “Sepeda buat apa?” “Supaya sepeda bisa berjalan harus ada apanya?” Hindari langsung memberi tahu jawaban. Bahkan sekalipun anak sudah tahu bagian yang hilang adalah rodanya, tetap harus diprobing (digali kembali), “Kenapa roda harus ada,? dst.

Semakin besar anak, maka FUNGSI dan MANFAAT bukan hanya menyangkut benda, tapi juga terkait sosial dan value. Misalnya;
“Apa yang paling penting dari seseorang?”
“Mana yang lebih baik, berusaha untuk bagus sendiri atau membantu teman yang tidak bisa agar bisa bagus bersama-sama?”
“Mana yang lebih baik, mencari kesalahan orang lain atau mencari kebaikan orang lain?”
“Apa sebetulnya yang kita cari di dunia ini”

Diskusi ini bisa begitu mendalam dan menyentuh hal-hal yang fundamental, filosofis dan menyangkut value.

Bila hal-hal seperti ini kerap dilakukan, dan anak sudah memiliki gambaran mengenai “Apa yang paling penting” maka memilah informasi yang begitu membanjir pun bisa dilakukan sendiri oleh anak. Bukan orangtua yang harus begitu repot melarang ini itu.
“Pokemon Go itu apa sih?”
“Apa yang menarik dari itu?”
“Apa manfaatnya main Pokemon Go?”
“Apakah ada cara lain yang bisa kita dapat untuk memperoleh manfaat yang sama dengan main Pokemon Go?”
“Kapan kalau begitu kamu bisa memainkannya?”
Dll.

Itu beberapa pertanyaan yang saya ajukan terkait Pokemon Go kepada anak saya. Saya pikir daripada melarang-larang dan menakut-nakuti yang bahkan menyebabkan rasa penasaran semakin besar, lebih baik saya diskusikan saja.

Cara seperti ini juga saya lakukan pada anak saya saat memilih teman, memilih sekolah, memilih perguruan tinggi, dll.

Kemampuan menentukan prioritas, lebih jauh juga akan membantu anak mengembangkan kemampuan perencanaan, mengurangi tingkat kecemasan dan mendorong keberanian mengambil keputusan.

Dan bagaimanapun, CONTOH dari orangtua adalah tetap yang paling utama. Sehingga memperbaiki diri kita sendiri sebagai orangtua adalah yang paling PRIORITAS, URGENT dan paling PENTING dilakukan dibandingkan segala macam teknik yang ditawarkan ….

Yeti Widiati 282816

Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber