Kenikmatan Membaca

Hernowo Hasim
August 9, 2016

“Tak ada yang lebih indah bagi kehidupan pikiran (life of mind) kecuali petualangan di taman teks, di hutan aksara dan kalimat yang lahir dari pikiran-pikiran besar sepanjang sejarah. Dan tiada kenikmatan mental melebihi momen ketika saya membaca teks klasik yang ditulis oleh orang-orang dari ratusan abad yang telah silam.”
—ULIL ABSHAR ABDALA dalam “Keajaiban Teks Klasik”

Bagaimana kita mengukur bahwa seorang anak itu dapat menikmati bacaannya, menikmati deretan teks yang dibacanya? Ketika dahulu saya membaca komik-komik jadul semacam Wiro, serial Mahabarata garapan R.A. Kosasih, lalu berbagai komik karya-karya Djair, Ganes Th., Hans Djaladara, dan masih banyak lagi yang lain, saya merasakan sekali bahwa kegiatan membaca yang saya lakukan sangatlah mengasyikkan. Juga ketika saya berpindah ke bacaan lain berupa cerita silat Kho Ping Hoo. Ada semacam kenikmatan membaca yang sulit saya lukiskan. Kegiatan membaca teks bergambar atau teks yang bercerita ini sungguh sangat berbeda dengan kegiatan membaca buku-buku pelajaran (buku teks sekolah). Membaca teks yang ada di dalam buku-buku pelajaran sangatlah membosankan dan tidak mengasyikkan.

Mungkin yang disampaikan oleh Ulil Abshar Abdalla di atas adalah semacam “ukuran” kenikmatan membaca yang dialaminya ketika dia berhasil membaca teks-teks klasik yang tidak semua orang dapat menikmatinya. Mengapa? Pertama, teks klasik yang dibaca oleh Ulil adalah teks berbahasa Arab. Apabila kita tidak memiliki kemampuan berbahasa Arab yang mencukupi, tentulah kita tidak dapat merasakan kelezatan teks tersebut sebagaimana yang Ulil rasakan. Kedua, teks-teks berbahasa Arab yang disebut Ulil mungkin tergolong teks tingkat tinggi—katakanlah berjenis sastra. Membaca karya sastra memerlukan kemampuan khusus. Dan ketiga, “kenikmatan membaca” Ulil tersebut dikaitkan dengan kehidupan pikiran. Ini tingkat membaca yang, menurut saya, sangat-sangat tinggi. Membaca teks dalam tingkat ini tak sekadar melihat deretan teks atau hanya menyerap (reseptif) apa yang disampaikan oleh teks.
Kegiatan membaca yang menyentuh kehidupan pikiran adalah kegiatan membaca dalam konteks—seperti diungkapkan dengan indah oleh Sven Birkerts dalam The Gutenberg Elegies: The Fate of reading in an Electronic Age (1996)—“deep reading”. Ada proses pengolahan, pendalaman, dan penyimpulan.
Hari ini, Selasa 9 Agustus 2016, saya baru saja merasakan kenikmatan membaca. Apa yang saya baca? “Rivera”. “Rivera” adalah judul Catatan Pinggir Goenawan Mohamad (GM) di majalah Tempo edisi 8-14 Agustus.
Setiap kali saya membaca majalah Tempo terbaru, saya senantiasa bergegas untuk membuka halaman terakhir yang di halaman itu ada Catatan Pinggir GM. Kadang teksnya tidak mudah saya pahami. Kadang saya juga kesulitan menkmatinya. Rata-rata isi Catatan Pinggir GM adalah semacam respons atau tanggapan terhadap apa yang dibaca, disaksikan, dan dialaminya. Kali ini, teks Catatan Pinggir yang berjudul “Rivera” tersebut berbicara tentang seorang pelukis asal Meksiko. GM menyebutnya sebagai “perupa revolusioner Meksiko”. Perupa yang bernama lengkap Diego Rivera ini membuat lukisan berjudul Gadis Melayu dengan Bunga. Lukisan tersebut dilihat oleh GM dalam pameran Koleksi Istana Kepresidenan di Galeri Nasional pada Agustus ini.

“Aneh memang,” tulis GM, “…Sosok perempuan itu teramat kalem. Tak ada yang gemuruh di sekitarnya. Tak ada keringat, gerak, kepedihan. Semua jinak. Kanvas ini tak ingin meyakinkan, mengubah, menggempur. Malah mebosankan—jauh dari gelora dalam lukisan Sudjojono yang mempesona. Tak terasa energi Rivera yang biasa.” GM kemudian membandingkan lukisan Gadis Melayu dengan Bunga itu dengan lukisan lain Rivera yang berjudul El Vendedor Alcatraces (“Penjual Bunga Lili”). El Vendedor, menurut GM, “…sebuah komentar sosial-politik—sebuah ‘propaganda’, tak berbeda dengan beberapa mural yang dibuat Rivera: karya ekspansif yang menyampaikan sikapnya tentang manusia dan sejarah.” Lewat penciptaan teks tersebut, GM telah menjalankan literasi dengan memanfaatkan kemampuan visualnya. GM tak membaca teks. Dia membaca gambar. Proses interaksinya dengan lukisan Rivera tersebut kemudian diungkapkannya lewat teks—teks menampung apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Teks tersebut kemudian saya “deep reading”-i—saya cerna, saya olah, dan saya tanggapi balik—dan lahirlah teks saya ini. Saya merasakan sekali kenikmatan membaca yang dahulu semasa anak-anak pernah saya alami saat menikmati teks Mahabarata.

Saya tak ingin menyebut apa yang saya lakukan ini dengan proses literasi. Yang saya alami ini merupakan proses intelektual yang sangat rumit. Sebab, saya tidak berhenti membaca dan menuliskan hasil kegiatan membaca saya. Saya kemudian terus didorong untuk lebih jauh agar mengembarakan pikiran saya. Ternyata apa yang dialami GM—melihat lukisan dan kemudian menghasilkan (memproduksi) teks itu—pernah saya alami ketika saya berkunjung ke National Gallery di London pada akhir Oktober 1997. Waktu itu saya berkesempatan menyaksikan pameran lukisan karya-karya Rembrandt. Di sebuah ruang, saya terpesona dengan sebuah lukisannya yang berjudul, Pembutaan Samson. Kemudian, setelah merenungkannya, saya berhasil memproduksi teks berikut ini:

“Kanvas yang dipigura dengan bagus itu seperti memenuhi dinding. Lukisan itu sungguh lebar memanjang. Menonjok. Samson telentang dan matanya ditusuk oleh semacam tombak sehingga darah memuncrat, merah. Adegan Pembutaan Samson itu disaksikan secara dingin oleh para petinggi kekuasaan. Sebuah teater. Inilah tafsiran Rembrandt Harmensn van Rijn—yang lahir pada 15 Juli 1606 di Leiden, Belanda—atas salah satu episode sejarah zaman klasik dalam Kitab Perjanjian Lama.”

Saya masih dapat memunculkan teks tentang Rembrandt itu di sini karena teks tersebut saya simpan dalam buku saya, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza (Kaifa, 2003). Teks itu merupakan salah satu bagian tulisan saya yang berjudul “Living Books: Museum, Galeri, Panggung Teater, Perpustakaan?”. Waktu di London, saya tak hanya ke National Gallery. Saya juga ke British Museum, menonton teater di kawasan Waterloo Road, berjumpa dengan penemu mesin uap (James Watt) di Science Museum, menikmati lukisan modern di Tate Gallery, dan masih banyak lagi tempat-tempat menarik lain. Saya beruntung dapat memiliki kemampuan “mengikat”—menuliskan apa yang saya saksikan dan alami. Dan lebih beruntung lagi saya memiliki kemampuan membaca teks. Berkat dua kemampuan ini, saya berhasil mengembangkan dan meluaskan pikiran saya secara dahsyat!

Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber