Logika Siklus Anak

Urutan logika siklus nakalnya anak dengan tidak bijaknya orang tua itu begini:
* Karena anaknya nakal, maka orang tuanya murka.
* Karena orang tuanya murka, maka Tuhan juga murka.
* Karena Tuhan murka, maka tidak turun rahmat di rumah itu
* Karena tidak turun rahmat di rumah itu, maka keluarga itu akan banyak masalah.
* Karena keluarga itu banyak masalah, maka anaknya tidak merasakan kebahagiaan dan tidak nyaman, sehingga akan makin nakal.

Prinsip inti siklusnya sebenarnya masih pada orang tua, yakni:
* Ridlo Allah berada pada ridlonya orang tua.
* Murka Allah berada pada murkanya orang tua.

Maka strategi paling efisien untuk memutus rangkaian siklus itu, Insya Allah ada pada bagian awal, yakni mencegah orang tua murka. Bila orang tua segera menghadapi anaknya dengan kasih sayang dan tidak dengan kemurkaan, maka orang tua itu menunjukkan kepada Tuhan bahwa mereka berdua ridlo kepada anaknya. Tentu bukan ridlo terhadap kenakalannya, melainkan ridlo kepada diri anaknya.

Dengan memastikan ridlo kepada anak, maka orang tua akan dapat melakukan 3 tahap ini:
1. Segera memaafkan anaknya, tidak memarahinya sama sekali, dan segera berusaha memahami situasi apa yang sedang dihadapi anaknya.
2. Segera menemui, berdialog, dan turut mendiskusikan solusi terbaik apa yang harus diambil oleh anak, orang tua, atau pihak lainnya, sambil terus mendoakannya.
3. Segera melupakan segala kesalahan anaknya tadi dan tidak mengungkit-ungkitnya kembali.

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Bila kalian memaafkannya, menemuinya, dan melupakan kesalahannya, maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS 64:14.

Dengan konversi murka menjadi ridlo, maka sekarang siklusnya jadi begini
* Suatu hari anak itu nakal. Orang tuanya segera melakukan 3 tahap itu dengan penuh kasih sayang, sebagai wujud keridloan mereka kepada anaknya.
* Karena orang tua anak itu ridlo, maka Tuhan meridloinya.
* Karena Tuhan meridloinya, maka rumah yang penuh ridlo itu dirahmati Tuhan.
* Karena rumah itu penuh rahmat Tuhan, maka keluarga itu penuh kasih sayang, sehingga jadi makin bahagia.
* Karena keluarga itu bahagia, maka anak tidak akan sempat lagi nakal, sebab setiap masalah hidupnya selalu segera mendapat solusi.

Jadi pada setiap kenakalan anak, (mohon maaf) lokasi perbaikannya sesungguhnya bukan pada anak, melainkan pada orang tuanya si anak.

Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber