Mendidik itu tidak memaksa

Hasanudin Abdurakhman

“Coba kalau anakmu tidak dipaksa salat, apa jadinya.” Itu kritik beberapa orang pada saya ketika saya sampaikan gagasan untuk tidak memaksakan syariat. Sesungguhnya ini kritik yang cacat nalar. Saya sedang bicara soal masyarakat, soal orang dewasa, dan soal hubungan antar orang dewasa. Kenapa dibawa ke soal hubungan antara orang dewasa dengan anaknya? Apakah mereka menganggap sebagian anggota masyarakat harus diperlakukan seperti anak-anak?

Tapi terlepas dari soal itu, katakanlah ini soal pendidikan. Apakah pemaksaan itu hal yang baik untuk pendidikan? Apakah pemaksaan itu satu-satunya jalan? Kesannya, kalau tidak dipaksa, anak tidak akan salat.

Memaksa bagi saya adalah pilihan terkahir dalam pendidikan, bukan pilihan utama. Sebelum itu pilihannya adalah mengajak. ‘Yuk, kita salat.’ tentu lebih baik dari ‘Hayo, salat sana.” Mengajak lebih baik daripada menyuruh. Kalau disuruh anak-anak mungkin akan mengabaikan. Tapi kalau diajak, kecil kemungkinan mereka menolak.

Tapi itupun bukan soal yang serta merta. Masalah di balik itu adalah, seberapa dekat kita dengan anak. Kalau kita dekat, anak akan selalu ikut apapun yang kita lakukan. Jangankan salat, kita masak atau cuci mobil, anak akan minta ikut. Kalau saya pergi ke mesjid, anak-anak saya tidak pernah “membiarkan” saya pergi sendiri.

Kalau kita jarang berinteraksi dengan anak, mereka akan merasa jauh. Mereka akan asyik dengan diri sendiri. Kita juga. Orang tua yang jauh dengan anak biasanya asyik dengan diri sendiri meski sudah di rumah. Mereka ini yang biasanya suka memberi perintah. Kalau tidak dipatuhi, mereka akan memaksa.

Yang diperlukan anak-anak adalah ajakan dan bimbingan, bukan perintah dan paksaan. Dekatlah dengan anak, maka sangat mudah untuk mengajak mereka melakukan sesuatu.

Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber