Mendidik Manusia Terhormat

Mendidik Manusia Terhormat. Hotel Ritz-Carlton –jaringan hotel berbintang kelas dunia– memiliki sebuah moto terkenal yang sangat tepat menggambarkan prinsip dasar gagasan melayani. Sebagai sebuah usaha jasa layanan, perusahaan besar yang mengelola rantai perhotelan global ini bermoto: ‘We are ladies and gentlemen serving ladies and gentlemen.’ Terjemahannya kurang lebih: ‘Kami manusia-manusia terhormat melayani manusia-manusia terhormat.’

 

Dalam moto itu terkandung dua pesan mendasar dan sejalan dengan filosofi pendidikan berpusat pada siswa. Juga sejalan dengan gagasan bahwa pendidikan adalah proses pemanusiaan bagi murid sekaligus bagi guru.

Pertama, dari moto itu, dapat disimpulkan bahwa yang dilayani adalah manusia-manusia sangat terhormat. Artinya, setiap tamu hotel ini harus dipandang dan ditempatkan sebagai manusia yang terhormat dan layak dilayani sebagai orang terhormat yang dikenal. Namun, ini tidak cukup, pesan kedua justru mengatakan bahwa semua orang yang bertugas melayani tamu di hotel ini juga harus menganggap dirinya sebagai manusia-manusia terhormat. Pelayan bukan manusia hina. Artinya, pekerja di hotel ini walau harus menganggap para tamu sebagai manusia-manusia terhormat, tetapi pekerja itu juga harus menganggap dirinya sebagai manusia terhormat. Ada kesetaraan dalam martabat. Dengan kata lain, jika seseorang melayani manusia lain dengan sungguh-sungguh sama sekali tidak mengakibatkan bahwa yang bersangkutan dianggap lebih rendah dari yang dilayani.

Ada kebajikan mendalam yang menjiwai prinsip melayani terkandung dalam moto tersebut. Kebajikan ini melandasi sikap dan tindakan serta cara berpikir para pekerja di hotel itu. Profesionalisme pelayanan relevan dengan martabat seperti yang diungkapkan melalui moto tadi. Dan, profesionalisme serta kesungguhan melayani tamu itu lah yang membuat mutu layanan hotel ini begitu dikenal.

Guru saat mendidik juga tentunya melayani para muridnya. Karena itu, sangat menarik jika mencoba menafsirkan moto untuk layanan di perhotelan tersebut di atas dan diterapkan pada layanan pendidikan.

Jika moto di atas diterapkan dalam pendidikan, maka bunyinya menjadi: ‘Kami manusia-manusia terhormat mendidik manusia-manusia terhormat.’

Pertama, ini bermakna bahwa setiap murid adalah manusia yang terhormat. Oleh karenanya, cara berkomunikasi dengan murid haruslah dengan cara yang terhormat. Sama seperti saat berhadapan dengan orang terhormat, tentunya cara berbicara dengan murid juga harus santun. Akibatnya, cara berkomunikasi guru yang meyakini moto ini tak akan membentak-bentak muridnya. Apalagi sampai memukul muridnya, jelas itu amat tak terhormat.

Kecuali itu, bak seorang staf yang berbicara pada atasan yang dihormatinya, tentulah tidak mengotbahi atau menceramahi, apalagi memaksa. Namun, justru tanda menghormati dan menghargai atasan dengan mau mendengar, memberikan usulan, mengajukan pilihan. Misalnya, jika ada murid yang terhenti saat menghadapi suatu masalah. Guru kebanyakan mungkin akan langsung memberikan petunjuk ke murid cara mengerjakan menurut sang guru. Namun, seorang guru yang dahsyat seharusnya bertanya, mendengarkan kesulitannya di mana. Kemudian, jika dirasa sang murid membutuhkan, lalu memberikan petunjuk atau pilihan. Misalnya dengan mengatakan, “Adakah masalah yang mirip seperti ini yang telah kamu selesaikan dahulu?” Atau, dapat juga dengan mengatakan, “Ada beberapa alternatif yang dapat dicoba.” Bukankah seperti ini pula cara orang berpendapat ke seseorang yang terhormat? Murid adalah manusia yang terhormat.

Tanda seorang guru menghargai muridnya juga pada bagaimana dia menghargai dan dengan sabar mau mendengar pendapat tiap muridnya. Ini implikasi penting dari moto tadi. Tentunya sangat tak elok jika seseorang yang menemani pemimpin negara tertentu, misalnya, tiba-tiba tak sabar dan memotong pendapatnya. Tentulah harus mendengarkan sampai habis atau jika harus memotong, mencari jeda yang tepat. Ini yang perlu diingat setiap guru dalam menghadapi muridnya.

Satu kenyataan mutlak, bahwa murid bukan bawahan guru, harus senantiasa diingat tiap guru.

Setiap murid harus dihormati hak belajarnya. Artinya, setiap murid berhak untuk mengalami serta mengalami ketaktahuan, keingintahuan, kesulitan, dan akhirnya memahami. Tahapan-tahapan tersebut penting dan tak dapat dilompati dan diambil jalan pintas. Oleh karenanya, seorang guru juga perlu mempercayai kemampuan muridnya. Ini agar membuat sang guru tak meremehkan muridnya. Sangat tak elok jika seorang guru yang belum-belum berpikiran atau menganggap muridnya tak mampu menyelesaikan masalah sendiri dan akibatnya harus diperintah dan dituntun semuanya terus menerus. Seperti saat seseorang menjadi penunjuk jalan seorang raja dalam berpetualang mendaki gunung, tentulah tak akan dengan menghilangkan kesulitan atau tantangannya. Sebaliknya, sang penunjuk jalan justru memilihkan tantangan yang dirasa sesuai dengan kemampuan sang raja. Demikian juga guru yang dahsyat paham seberapa berat tantangan yang pantas bagi tiap muridnya. Itulah tanda guru yang memandang muridnya sebagai manusia terhormat.

Kedua, dari moto di atas, perlu juga diingat bahwa ‘We are ladies and gentlemen …’ yang artinya guru juga manusia terhormat. Jadi tidak saja tiap murid adalah manusia terhormat, tetapi guru juga harus menyadari bahwa dirinya manusia terhormat. Walau melayani murid, guru tidak lebih rendah dari muridnya. Memang guru sejatinya melayani secara total tiap muridnya, tetapi ini sama sekali tidak menandakan bahwa sang guru memposisikan dirinya kurang terhormat dibanding muridnya. Guru sebagai manusia terhormat yang mendidik murid yang merupakan manusia-manusia terhormat merupakan gagasan yang perlu kita pendidik tajuk terus menerus.

Tantangan kita semua agar gagasan tersebut diimplementasikan ke dalam ruang-ruang kelas di seluruh penjuru Nusantara yang melahirkan pembelajaran secara bermakna dan bijaksana secara dua arah. Mari menyuburkan peran guru sebagai manusia terhormat yang mendidik manusia-manusia terhormat.

New Delhi, 26 Agustus 2014

Iwan Pranoto

Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber

Posting Berkaitan