Mengasuh Anak ada Guideline-nya

Mengasuh Anak ada Guideline-nya. Akhir-akhir ini, sosial media para ibu muda dihebohkan dengan selebgram sekaligus vlogger yang dinilai sangat berlebihan menampilkan cara bergaulnya yang bebas nilai dan aturan.

Beberapa orang menyesalkan perilakunya karena dijadikan panutan anak-anak SD, SMP, dan SMA.
.
Tak sedikit pula yang dagdigdug jangan-jangan anak sendiri pun menjadikannya panutan.
.
Apa yang perlu dilakukan oleh orangtua agar anak kita tidak seperti “lepas” kontrol setelah kita didik dengan baik di masa kecilnya?
.
Jika jiwa anak adalah sebuah bangunan, bagaimana kita membangunnya sehingga ia menjadi pribadi tangguh di era digital? Yang akan tetap berdiri kokoh tak hancur diterpa badai.
.
Setelah kami di YKBH melakukan telaah dari sudut pandang Parenting, kami menemukan sekurang-kurangnya ada 7 Pilar Pengasuhan yang mendukung seorang anak agar mampu tumbuh secara tangguh di era digital ini, sehingga dapat mencegahnya dari penyimpangan perilaku (termasuk perilaku seksual).
.
Tangguh yang dimaksudkan disini adalah :
1. Kokoh keimanannya, baik ibadahnya, mulia akhlaknya
2. Merasa dirinya berharga dan percaya diri
3. Cerdas : Berfikir kritis dan solutif
4. Mampu berkomunikasi dengan baik
5. Mandiri
6. Bertanggung jawab pada Allah, diri sendiri, keluarga dan masyarakat, serta
7. Bijak berteknologi
.
.
Jika salah satu pilar pengasuhan itu keropos, mungkin tidak akan merobohkan seluruh bangunan. Namun kita tidak tahu dengan pasti, pilar mana yang menjadi penopang utama bangunan jiwa anak kita.
.
Selayaknya bangunan, pilar itu hanya akan mengokohkan bangungan jika dibangun di atas pondasi yang kuat. Jika pondasinya rapuh, mudah pula lah bangunan itu amblas, meski kokoh pilar-pilarnya.
.
Dalam tulisan ini, kita akan membahas pondasi pengasuhan seperti apa yang menjadi landasan agar jiwa anak kita kokoh dan tangguh.
.
Sedangkan mengenai 7 Pilar Pengasuhan, akan kita bahas di artikel yang lain.
.
………….
Sebenarnya, ketika kita diberi amanah seorang anak, bersama itu pula Allah memberi kita ‘modal’ agar kita menjadi hamba yang amanah.
.
Tidak mungkin Allah memberi ‘tantangan’ yang tidak dapat ditanggung oleh hambanya, mengapa? Mari kita cek Al-Baqarah 286.
………………………
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…”
………………………..
.
Maka, sudah pasti ketika amanah diberikan, kita sudah diberi petunjuk perawatannya. Analoginya seperti produsen gadget ketika mengeluarkan produk, setiap produk yang kita beli pasti memiliki buku manual sebagai petunjuk perawatan agar gadget diperlakukan selayaknya.
.
Begitu pula dengan Pencipta anak kita. Anak kita adalah produk ciptaan Allah, maka Allah pun membuatkan buku manual agar ciptaanNya diperlakukan selayaknya.
.
Apa bentuk buku manual tersebut? Tentu saja firmanNya : kitab suciNya dan keteladanan dari utusanNya.
.
Selain itu, ada modal lain yang sudah tertanam dalam tubuh kita, berupa bagian otak bernama Pre Frontal Cortex (PFC) yang diciptakan khusus untuk manusia sehingga kita mampu menggunakan intuisi kita sebagai orangtua, serta kinerja otak dan hormon yang spesifik antara laki-laki dan perempuan, sebagai hardware-nya.
.
Sebagai software-nya, Allah juga mengajarkan Ilmu dan memberikan kefahaman dari lautan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Ia memberi ilham dari suara hati kita maupun dari orang lain yang tiba-tiba berbagi ilmu meskipun tidak kita minta.
.
Dengan hardware dan software tersebut, Allah meng-install perangkat kemanusiaan untuk mendukung peran seseorang (menjadi orangtua) dengan sempurna.
.
Jika di dalam buku manual gadget, kita diberi rekomendasi untuk mematuhi do’s and don’ts dalam memperlakukan gadget kita agar mesin utamanya tetap terawat dan tidak cepat rusak, begitu pula dalam buku manual yang Allah berikan pada kita.
.
Ada banyak rekomendasi dalam memperlakukan dan merawat anak kita agar terawat “mesin utama” nya. Apa mesin utama seorang manusia? Tepat sekali, OTAKnya.
.
Maka, sangat penting bagi kita untuk memperlakukan anak kita sesuai dengan cara kerja dan perkembangan otaknya.
.
Saat kita memutuskan membeli gadget dengan merk tertentu, lokasi “service center” yang mudah dijangkau juga menjadi salahsatu pertimbangan.
.
Dalam pengasuhan, petugas “service center” adalah pelaku pengasuhan, yaitu kedua orang tua.
.
Khusus dalam kasus pengasuhan, petugas perawatan harus lengkap (dual parenting).
.
Yang perlu ditekankan adalah bukan lengkap jumlah atau person-nya yang paling penting, tapi lengkap fungsi dan perannya.
.
Dan orang-orang yang mengasuh anak (significant other) harus kompak dan KONSISTEN.
.
Jika kita ada pada suatu kondisi tidak lengkap secara person, tetap lengkapi dengan mencari penggantinya: ayah/ibu baru, kakek/nenek, paman/bibi atau seseorang yang bisa jadi panutan.
.
Umat Islam sudah mendapat teladan langsung dari Rasulullah saw mengenai dual parenting ini.
.
Inilah pondasi yang harus kuat dalam pengasuhan. Yaitu, kitab suci-Nya dan teladan dari utusan-Nya (spiritual based), cara kerja dan perkembangan otak (brain based), dan dual parenting.
.
Pondasi ini lah yang menjadi GUIDELINE kita dalam mengasuh.
.
Tokoh dan artikel mengenai pengasuhan saat ini sudah sangat berlimpah. Carilah ilmu dari siapa saja dan apa saja. Namun, biasakan diri untuk kroscek setiap ilmu yang kita peroleh apakah sesuai guideline (spiritual based, brain based, dan dual parenting).
.
Kita selalu punya pilihan untuk mengulang sejarah pengasuhan orangtua kita, ikut pendapat orang lain tanpa kroscek, atau terus belajar ilmu yang sesuai guideline kita. Keputusan akhir ada di tangan kita.
.
Ketika kita sudah bertawakal dalam mengasuh sesuai dengan apa yang dimaui-Nya, sertakan selalu doa yang tertulis dalam ayat yang kita petik di atas :
——————————
(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.
———————————–
Mudah-mudahan kita sekeluarga dapat berkumpul kembali di akhirat dalam keadaan bahagia di surgaNya.
.
Bukankah ini tujuan akhir dari pengasuhan kita? SEKELUARGA DI SURGA.

Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber