rp_foto-para-guru-mengatakan-bahwa-teknologi-adalah-investasi-terpenting-untuk-sekolah.jpg

Menjadi Pemimpin

Menjadi Pemimpin. Apa yang melahirkan seorang  pemimpin  yang mumpuni? Berdasarkan pengalaman dan pandangan dari para pemimpin hebat yang saya kenal, saya percaya bahwa untuk menjadi pemimpin, seseorang harus mendeklarasikan dirinya sebagai orang yang selalu siap belajar.

Pemimpin adalah murid dari “kepemimpinan.” A leader is a student of leadership. Mengapa? Karena leadershipadalah proses yang terjadi dari leaders (pemimpin),followers (mereka yang mengikuti pemimpin), dansituation (situasi).

Tidak ada pemimpin hebat yang tiba-tiba muncul dari dalam bumi, apalagi menyatakan bahwa dirinya adalah pemimpin yang mumpuni karena dia adalah keturunan seorang pemimpin yang hebat. Semua pemimpin yang hebat pasti melewati proses mempelajari segitiga “leader-follower-situation” tadi.

Pemimpin yang hebat selalu belajar dari proses kepemimpinan (leadership). Ia tidak hanya berpikir soal kharisma dan pencitraan. Oleh karena itu, untuk menjadi pemimpin, seseorang wajib memiliki mentalitas untuk mau mendengar dan menerima kritik.

Seorang yang merasa sudah tahu semua dan tidak mau lagi belajar sulit untuk diharapkan menjadi pemimpin yang bagus. Kalau merasa sudah tahu semua, ke laut aja!

“Seorang yang merasa sudah tahu semua dan tidak mau lagi belajar sulit untuk diharapkan menjadi pemimpin yang bagus. Kalau merasa sudah tahu semua, ke laut aja!”

Tiga Serangkai Pembentuk Pemimpin

Ada tiga hal yang membentuk seseorang menjadi pemimpin yang mumpuni.

Yang pertama adalah pengalaman. Untuk menjadi pemimpin yang baik seseorang perlu melewati masa up and down, dan tidak lari ketika menghadapi masa-masadown yang sulit tersebut. Berdasarkan banyak studi kasus, banyak pemimpin bagus yang lahir ketika mereka mampu melewati masa-masa sulitnya.

Lihat dan pelajari sejarah para pemimpin hebat. Tidak saya temukan anak manja yang tidak pernah mengalami kesusahan yang dapat menjadi pemimpin yang baik. Pengalaman berbuat salah, kalah, atau melewati suatu lingkungan yang sulit adalah salah satu jalan menjadi pemimpin.

Hal kedua yang membentuk seorang pemimpin adalah pendidikan yang didapatkannya. Dalam konteks ini, pendidikan adalah training yang diperolehnya.

Untuk menjadi pemimpin, kita perlu belajar dari pengalaman dan pemikiran orang lain. Bagaimana cara mendapatkan hal itu? Membaca dan berdiskusi! Kita perlu banyak membaca dan berdiskusi serta membangun jejaring untuk menambah ilmu dan pengalaman yang kita miliki.

Tidak ada salahnya juga untuk mengambil sekolah resmi lagi agar menambah kemampuan untuk menjadi pemimpin. Perubahan yang terjadi di dunia kita yang semakin mengglobal, perubahan perusahaan, hingga perubahan perilaku orang adalah bidang yang perlu terus dipelajari untuk menjadi pemimpin.

Hal ketiga, dan ini merupakan insights yang paling menarik yang saya dapatkan dari bos saya, adalah soal traits, yaitu sifat atau ciri-ciri yang harus dimiliki untuk menjadi pemimpin “jagoan”.

Menurutnya, traits ini tidak mudah dipelajari ataupun diajarkan baik dari pengalaman maupun bangku sekolah. Traits ini adalah sifat yang seringkali sudah tertanam dalam diri seseorang. Kalau seseorang tidak mempunya traits ini, ia perlu mengubah sifat untuk menjadi pemimpin yang baik.

“Kalau seseorang tidak mempunya traits ini, ia perlu mengubah sifat untuk menjadi pemimpin yang baik”

Ciri yang pertama adalah karakter “ultrakompetitif” (“ultra competitive”), sangat suka bersaing, di dalam hal-hal yang baik dan benar tentunya. Pemimpin itu memiliki kemauan yang besar untuk menang.

Namun, tidak hanya itu. Ia akan berjuang mencapai kemenangan itu dengan integritas. Ia selalu do the right things right! Boleh berusaha untuk selalu menang, tetapi tidak boleh melupakan integritas.

Ciri kedua adalah penuh rasa penasaran (curious). Selalu kepo. Selalu ingin tahu. Untuk menjadi pemimpin, diperlukan sifat ingin tahu dan mencari informasi tentang banyak hal. Ciri ini harus dilengkapi dengan ciri lain, yaitu kepercayaan diri yang kuat. Pemimpin yang tahu tentang diri mereka, tetapi tidak memiliki keyakinan diri tidak akan bisa mengambil keputusan.

Sebaliknya, pemimpin yang percaya diri, tetapi tidak mengetahui dirinya sendiri (self-aware) karena tidak mau mendengar kritik akan menjadi atasan yang buruk karena tidak memikirkan orang lain.

Ciri keempat untuk menjadi pemimpin adalah memiliki daya tahan (resilience) dan kemampuan (capacity) untuk bekerja. Untuk menjadi pemimpin, seseorang harus berani dan mampu menerima “tonjokan” agar yang dikerjakan bisa selesai. Pemimpin tidak bisa cengeng dan selalu merengek bahwa ia tidak mendapatkan dukungan ini itu serta menyalahkan orang lain.

Ciri kelima untuk menjadi pemimpin adalah keberanian yang berimbang. Bukan yang asal nekat, tetapi juga bukan yang tidak berani mengambil risiko sama sekali. Pemimpin yang baik tahu bagaimana memilih “pertempurannya”. Ia bisa menyusun prioritas dan berhitung untung rugi dengan baik.

Ciri keenam adalah keberanian untuk berbeda dan melakukan perubahan. Pemimpin yang baik tak perlu selalu mengikuti arus. Kadang, diperlukan pendapat yang berbeda dengan kebanyakan.

Ciri terakhir untuk menjadi pemimpin adalah “giver.” Be a giver, not a taker. Ini adalah karakter keren! Pemimpin bagus itu selalu bersedia menolong. Menjadi pemimpin yang baik adalah menjadi teman yang baik juga!

Handry Satriago
CEO GE Indonesia
Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber