Misi Pernikahan atau Misi Keluarga (Part 4)

Harry Santosa – Millenial Learning Center

#fitrahkeluarga #familycoremission

Gambaran Umum tentang Misi Keluarga

Karenanya Allah ciptakan setiap manusia itu unik, kemudian Allah pertemukan suami dan istri sebagai pasangan yang unik. Itu semua bukan tanpa maksud (purpose) dan peran (misi), karena bagi orang beriman tidak ada sesuatupun di muka bumi ini yang terjadi secara kebetulan, semuanya by God Design untuk memberi manfaat bagi peradaban manusia dan alam semesta.

Itulah mengapa peristiwa pernikahan adalah peristiwa besar peradaban, Kitabullah menyebutnya Mitsaqon Gholidzo, itu karena ada peran peran besar peradaban, ada janji janji besar yang ditunggu dunia dan ditanya di akhirat kelak, dari sebuah pernikahan atau sebuah keluarga. Itulah mengapa disebut bahwa perceraian mengguncang Arsy, karena ada peran dan tugas sebuah pernikahan yang sirna bersamaan dengan terjadinya perceraian.

Di masa lalu, peran atau tugas unik sebuah keluarga, nampak dari “family name” atau “asal daerah” yang melekat pada nama. Di Eropa, family name menggambarkan peran unik dari nenek moyang sebuah keluarga di masa lalu, seperti Baker (Tukang Roti), Taylor (Tukang Jahit), Butcher (Tukang Daging) dstnya. Di Papua, suku tertentu dikenal dengan tugas atau peran spesifik tertentu, misalnya mengurus pohon sagu, mengurus babi, mengurus hutan dstnya turun temurun sejak nenek moyangnya.

Di masa modern, dengan industrialisasinya, membuat banyak keluarga tercerabut dari akarnya, melayang layang di kota besar tanpa kejelasan peran atau tugas atau misi spesifik keluarganya. Berumah tangga seolah hanya berkumpul untuk makan, minum, tidur, bercengkrama dan memproduksi anak, dsbnya mirip sebuah peternakan. Tanpa Misi, tanpa Peran, tanpa Tugas sepsifik peradaban.

Mohon maaf, sistem persekolahan modern telah “sukses” mengeliminasi peran atau tugas spesifik manusia dengan penyeragamannya yang menghilangkan sifat unik atau potensi unik manusia. Ketika suami dan istri yang merupakan hasil cetakan pabrik persekolahan ini kemudian menikah, maka dua orang yang tidak memiliki potensi unik atau fitrah bakat yang dituangkan menjadi personal mission, maka akan sulit menemukan family mission.

Sejujurnya, tanpa Misi Pernikahan atau Misi Keluarga maka pernikahan atau keluarga kita sangat rentan tanpa makna. Begitupula berbicara ketahanan keluarga, tanpa adanya Misi keluarga atau Misi pernikahan hanyalah mimpi di siang bolong.

Gen Keluarga adalah Misi Keluarga

Belakangan ini, di beberapa keluarga yang dianggap sukses dalam mendidik, nampak bahwa mereka dengan jelas dan lugas menunjukkan misi keluarganya, misalnya Keluarga “Gen Halilintar”, yang semua anggota keluarganya memang punya passion dan spirit sebagai businessman bak halilintar. Inilah misi keluarga mereka.

Lalu ada beberapa keluarga yang tergopoh gopoh ingin meniru keluarga “gen halilintar”, padahal tidak semua misi keluarga sama, dan tidak ada keluarga yanģ menjadi versi kedua dari keluarga lain. Tahan dulu, bisa jadi gen mereka adalah “gen sayuran” yang suka kedamaian dan kesehatan, “gen hujan” yang suka berbagi dan menumbuhkan, “gen matahari” yang suka menyinari dan memberi kehangatan dsbnya.

Jadi jangan pernah menjadi versi kedua dari keluarga lain, karena keluarga kita unik, dan keunikan itulah yang merupakan potensi uantuk menjalani peran spesifiknya atau misi keluarganya.

Misi, baik personal, keluarga maupun komunal, adalah panggilan hidup atau alasan keberadaan yang dapat dirasakan sebagai jatidiri atau keunikan atau berpola pada aktifitas aktifitas yang berulang yang banyak manfaat yang dialami sebuah keluarga.

Menuliskan MISI keluarga adalah “Doing the Right thing”, menjawab pertanyaan “WHY WE EXIST” dalam lingkup strategis atau Misi Inti. Kebanyakan kita terjebak kepada “Doing the thing Right” atau menjawab HOW dalam lingkup operasional sehari hari.

Lalu bagaimana, menemukan gen keluarga atau misi keluarga kita?

Luangkan waktu sejenak bersama keluarga, sertakan anak bila sudah berusia di atas 10 tahun. Jadikan momen untuk berhenti sejenak, merenung dan menemukan MISI Keluarga yang merupakan sinergi dari misi personal suami dan misi personal istri menjadi misi bersama yang lebih bermakna bagi semua.

Momen Ramadhan atau Momen Muharram barangkali bisa dijadikan kesempatan menemukan MISI Keluarga. Tidak perlu resmi dan formal, rileks saja dan optimis bersama dalam suasana yang tenang dan menyenangkan. Bisa dimulai dengan membacakan kisah kisah keluarga hebat di dalam alQuran dstnya.

Kemudian, jawablah pertanyaan pertanyaan sederhana namun mendalam yang menggambarkan keseluruhan tentang keluarga kita.

Berikut ada daftar pertanyaan yang harus dijawab yang kemudian akan menggiring kita kepada jawaban atas Misi Keluarga kita

1. Apakah kira kira peran spesifik keluarga besar dari Suami dan dari Istri. Tulislah apa kira kira profesi yang digeluti secara turun temurun, misalnya pedagang, ahli masakan, petani teladan, pendidik, pegiat kesehatan, pecinta sosial dstnya. Silahkan ditelusuri.

2. Apakah bakat atau pekerjaan yang sangat disukai suami selama ini baik hobby atau profesi maupun bidang profesi? Ingat bahwa hebat dalam sebuah profesi atau bidang belum tentu bakat atau misi personal.

3. Apakah bakat atau pekerjaan yang sangat disukai istri selama ini baik hobby atau profesi maupun bidang profesi? Ingat bahwa hebat dalam sebuah profesi atau bidang belum tentu bakat atau misi personal.

4. Apa yang selama ini selalu dikerjakan atau dialami oleh keluarga kita dan nampak berulang dan berpola serta nampak banyak manfaatnya?

5. Apa aktifitas atau peran selama ini dalam sosial masyarakat yang membuat keluarga kita “eksis”?
6. Apa yang membuat keluarga kita nampak berbeda dari keluarga atau pasangan lainnya?

7. Apa masalah di sekitar yang paling ingin diselesaikan oleh keluarga kita dan menggebu gebu ingin melakukannya?

8. Siapa yang paling ingin kita tolong di muka bumi?

9. Sebutan apakah yang ingin kita dengar tentang rumah
kita jika orang datang ke rumah kita meminta manfaat? Misanya rumah inspirasi, rumah sehat, rumah tanaman, rumah sains, rumah alQuran, rumah sosial dsbnya.

10. Walau bakat atau misi personal dari suami, istri dan anak berbeda, namun dalam bidang apakah keluarga kita ingin memberi kontribusi sebesar besarnya? Misalnya pendidikan, kesehatan, kewirausahaan, kepemimpinan dsbnya, sebutkan dengan lebih spesifik misalnya bidang pendidikan usia dini anak terlantar, kewirausahaan warga desa dalam potensi lokal dsbnya.

Setelah menjawab pertanyaan di atas lalu tuliskan kalimat singkat dimulai dari kata kerja “untuk menolong…”, “untuk mendidik…”, “untuk melayani…” dsbnya yang mewakili keseluruhan jawaban atas pertanyaan 1 sampai 9 di atas. Inilah misi pernikahan atau misi keluarga kita.

Lakukan hal di atas bersama istri, sinergikan semua yang menjadi misi atau jatidiri masing masing.

Setelah Misi dengan jelas bisa dituliskan, lalu bagaimana menuliskan Visi keluarga kita?

Visi keluarga adalah hal hal yang dapat diraih atau dicapai sepanjang keluarga kita menjalankan “Misi Keluarga”.
Silahkan jawab pertanyaan berikut:
(Bersambung)

Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber