Mumi Anak Kecil yang Bisa Mengedipkan Mata

Peneliti Italia mengklaim bahwa mereka menemukan mumi anak kecil di Sicily yang membuka dan menutup matanya setiap hari.

Terekam dalam foto time lapse dan video, fenomena mengerikan itu telah menjadi objek spekulasi beberapa tahun lamanya. Minggu ini, surat kabar Italia kembali memberitakan Rosalia Lombardo, gadis kecil berusia dua tahun yang meninggal akibat pneumonia tahun 1920, menggerakan kelopak matanya beberapa kali dalam sehari hingga memperlihatkan matanya yang berwarna biru.

Rosalia merupakan salah satu yang terkenal dari 8.000 mumi yang ada di katakomba biara Capuchin di Palermo, Sicily.

Nama sebutannya adalah ‘Sleeping Beauty’. Ia terlihat seperti bayi 2 tahun yang sedang tidur. Dengan selimut, wajah damainya terbingkai oleh rambut pirangnya yang keriting. Lehernya masih terikat oleh pita.

Meskipun termumifikasi secara menakjubkan, ternyata Rosalia tidak membuka dan menutup matanya.

“Itu hanya ilusi optik yang dihasilkan dari cahaya yang tersaring lewat jendela, ketika siang subjek pun berubah,” ujar Dario Piombino-Mascali, kurator dari Katakomba Capuchin.

Antropolog mengungkapkan rahasia mumifikasi Rosalia yang sebenarnya pada tahun 2009. Ia menemukan formula misterius yang membuat Rosalia termumifikasi secara sempurna.

Ketika sebagian besar mumi di katakomba adalah biarawan dan awet oleh lingkungan yang kering, Rosalia adalah mumi yang artifisial. Ayah Rosalia yang sedih atas kematian anaknya itu membalsam jasad anaknya. Ia tidak pernah mengungkapan zat kimia yang ia gunakan untuk proses pembalsaman anaknya itu.

Pada 2009, Piombino-Mascali menemukan manuskrip tulisan tangan ayah Rosalia tentang resep pembalseman itu. Gliserin, formalin yang disatukan dengan zink sulfat dan klorida, dan alkohol yang dicampurkan dengan asam salisilat.

Formalin digunakan untuk membunuh bakteri pada tubuh Rosalia. Gliserin menjaga tubuhnya tetap kering. Asam salisilat membunuh jamur, sedangkan zink membuat tubuh Rosalia membatu.

(Annisa Hardjanti. Sumber: Rossella Lorenzi/Discovery News)

Share from: National Geographics