Kuasai Matematika SD SMP dalam Lima Hari Mathmagic And Science Club Rumah Akal Numbro™ - Koran Matematika Digital
   

NEWS DETAIL

Sepasang Suami Istri Mengembangkan Metode Berhitung Gaya Bebas
Posted: 01/08/2006

Rubrik Pendidikan, Majalah TEMPO Edisi 19-25 Juni 2006

 



Tulisan: Widiarsi Agustina


Mencongak Tak Lagi Mengerikan

 

Sepasang suami-istri mengembangkan metode berhitung gaya bebas. Mendidik anak berimajinasi dengan angka.

 

MATEMATIKA kini jadi pela­jaran yang dinanti Dinah Ra­sari dan Naura, 9 tahun, dua sahabat yang bersekolah di SD Negeri Sukadamai III, Bo­gor. Padahal setahun lalu Dinah dan Naura, juga banyak pelajar lainnya, ­begitu sebal jika menghadapi pelajaran berhitung. "Dulu suka keringetan kalau ada matematika," begitu cerita Naura.

 

Tak mau terus berkeringat, Dinah lalu ikut kursus berhitung dari negeri se­berang. Sayang, hasilnya ia rasa kurang memuaskan. Sampai suatu hari mereka kursus matematika di Rumah Akal, se­buah tempat kursus yang dikelola Bek­ti Hermawan Handojo, orang tua Agung Adi Handoko Putro, kakak kelas mereka.

Sejak itu, kedua sahabat itu berbalik menyenangi matematika. Nilai pelajaran berhitung di sekolah pun meningkat drastis. Ponten matematika di rapor menjadi 8 dan 9. Keduanya juga berani menawarkan diri kepada Bekti menjadi guru matematika bagi siswa taman kanak-kanak. "Saya punya dua murid," kata Dinah dengan bangga.

 

Metode matematika yang dipelajari Dinah dan Naura di Rumah Akal di­sebut mathmagic. Prinsipnya adalah berhitung secara sederhana, mudah, dan cepat. Bekti, si penggagas, mengatakan dengan metode ini penjumlahan, pengu­rangan, perkalian, dan pembagian bisa dilakukan dengan berbagai cara. "Siswa diajari lebih kreatif dan fleksibel meme­cahkan soal," ujar Bekti, 39 tahun.

 

Kegemaran Dinah dan Naura pada matematika terbukti ketika Tempo mengunjungi mereka, Rabu pekan lalu. Keduanya lincah menuliskan angka di atas bundelan kertas hijau bergambar kotak dan bergaris diagonal. "Ini nama­nya kalkulator kertas mathmagic," kata Dinah. Semenit kemudian mereka kom­pak berseru: 3.094.248. Ini hasil per­kalian 2.748 x 1.126.


Tak semua soal matematika dijawab Dinah dan Naura dengan menggunakan kalkulator kertas. Tergantung jenis soal dan adakah jalan lebih efektif untuk menyelesaikan soal tersebut. "Ini seper­ti pencak silat. Tergantung jurus dan gerakannya," ujar Naura.

 

Dengan logika aljabar, menurut Bek­ti, satu soal perhitungan dasar seperti penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian sebenarnya bisa disele­saikan dengan berbagai cara secara mu­dah. Sebuah soal diibaratkan kepergian seseorang ke satu tempat. Untuk menca­pai tempat tersebut bisa dilakukan lewat berbagai cara dan arah. "Disebut magic karena banyak keajaiban cara penyele­saian," ujar Bekti.

 

Kunci belajar metode ini adalah mem­bebaskan cara pandang berhitung de­ngan sekat atau hanya satu cara. Selain memberikan berbagai cara metode ber­hitung, mereka juga merangsang anak mengeksplorasi dirinya berimajinasi dengan angka. Bocah-bocah itu diajak mengenal karakter dan sifat tiap angka, termasuk bagaimana  memperlakukan mereka.

 

Dengan begitu, anak-anak itu menge­tahui metode dan logika penyelesaian masalah. "Kami tidak mengajari anak sekadar pintar berhitung, tapi juga krea­tif menggunakan akal untuk menyele­saikan masalah," ujar Bekti.

 

Metode mathmagic mulai digagas Bek­ti dan Srihari Ediati, 39 tahun, istrinya, sejak 2003. Semula pasangan ini kebi­ngungan membantu anak sulungnya, Agung Adi Handoko Putro, belajar ma­tematika. Pada suatu malam, saat bela­jar, Agung mengeluh enggan menyele­saikan soal-soal perkalian yang menurut dia menghabiskan banyak waktu.

 

Semula Bekti heran, mengapa anak sulungnya masih mengeluh ketika menyelesaikan soal matematika, padahal ia sudah pernah ikut sebuah kursus matematika. Ibunya pun sudah mem­berikan pelajaran tambahan aritme­tika. Ediati memang jago matematika. Semasa kuliah di Institut Pertanian Bo­gor, ia pernah memberikan les matema­tika untuk anak-anak SMA. "Bahkan di ijazah SMA, nilai matematikanya 10,'' kata Bekti.

 

Lelaki kelahiran Probolinggo, Jawa Timur, ini kaget melihat Agung menye­lesaikan soal perkalian masih dengan cara konvensional, seperti yang pernal ia alami semasa kecil. Cara itu adalah perkalian dari kanan ke kiri dan men­jumlahkan hasilnya ke bawah. Metode ini sudah berusia 30 tahun lebih, dan cuma satu-satunya cara yang diajarkan di sekolah. "Ini sering membuat mentok dalam berhitung," ujarnya.

 

Bersama istrinya, Bekti akhirnya me­ngutak-atik soal itu. Lulusan IPB tahun 1991 ini membongkar catatan dan buku diktat kuliahnya. Sejumlah buku refe­rensi ikut digelar. Berbagai logika ru­mus penjumlahan, pengurangan, perka­lian, dan pembagian dipelajarinya lagi. Bingo! Ia menemukan perhitungan banyak angka ini lebih mudah dipahami jika meng­gunakan metode aljabar.

 

Masalahnya, bagaima­na mengolah logika aljabar itu dalam soal perhitungan anak-anak dan bahasa seha­ri-hari. "Setelah beberapa kali uji coba cara penye­lesaian, Agung mulai menangkap logika pe­nyelesaian yang di­maksud," kata Bekti.

 

Setahun menjadi obyek eksperimen ayah dan ibunya, Agung banyak me­ngalami perubah­an. Matematika bukan lagi ba­rang yang me­nakutkan bagi­nya. Bahkan ia jadi keran­jingan. Men­jelang kelas 5 SD, Agung bahkan ikut Olimpiade Ma­tematika Tahun 2006 kendati gagal jadi juara.

 

Perubahan Agung juga dirasakan guru dan teman-teman se­kolahnya. Kesuk­sesan pasangan ini mengajari anaknya ber­hitung mulai menjalar dari mulut ke mu­lut. Banyak warga Peru­mahan Budi Agung, Bo­gor, tempat mereka tinggal ak­hirnya menitipkan anak-­anaknya. Be­berapa bulan kemudian, pasangan ini mendirikan Ko­munitas Buka­mata dan membuka kursus mathmagic.

 

Selama proses ter­sebut, Bekti dan Ediati membukukan catatan eksperimen mereka. Awalnya sekadar ber­jaga untuk membantu Adinda, putri bungsu­nya, belajar matematika kelak. Ta­pi, belakangan, ada desakan untuk me­nerbitkan catatan itu dalam bentuk buku.

 

Pada 2004, buku pertamanya terbit. Menyusul terbitnya buku, desakan membuka lembaga pelatihan pun se­makin kuat. Tahun beri­kutnya, Bekti memilih ke­luar dari pekerjaannya di perusahaan sekuritas. Bersama istrinya, ia terjun sepenuhnya untuk mengembangkan metode ini.

 

Melalui situs http://www.rumahakal.com, pasangan ini mengembangkan metodenya dengan sistem waralaba. Se­jumlah unit lembaga pelatihan dengan ikon Rumah Akal didirikannya di Bogor dan beberapa tempat lain seperti Lam­pung, Jakarta Pusat, Cibinong, Tangerang dan Bekasi.

 

Hasil eksperimen pasangan ini me­ramaikan sejumlah metode belajar matematika. Ada sempoa alias men­tal arithmethic yang diadaptasi dari metode berhitung kuno menggunakan alat hitung dari Cina. Ada kumon yang intinya sama dengan sempoa, yaitu men­congak dan mengandalkan kecepatan berhitung. Kumon adalah metode be­lajar yang dikembangkan Toru Kumon, guru matematika SMU di Jepang pada 1954 yang kini populer di 40 negara, ter­masuk Indonesia.

 

Belakangan muncul lagi metode I love Mathematics, disingkat I-Maths, yang dikembangkan Universal Mental Arith­metic. Metode ini dikembangkan se­jak 15 tahun lalu oleh penemunya, Lin Qui Rong, peraih lima penghargaan matematika dari Taiwan.

 

Masih ada lagi Sakamoto, metode belajar matematika dengan soal cerita yang dikembangkan Hideo Sakamoto dari Je­pang. Dari negeri sendiri, ada Jarimati­ka yang dikembangkan Septi Peni Wu­landari pada 2000. Metode berhitung dengan jari ini menggabungkan metode aritmetika dari sempoa dan kerajinan latihan soal dari kumon.

 

Bekti mengatakan, siswa yang ikut kursus mathmagic umumnya pernah menjajal kursus metode matematika yang lain. Tapi mereka keluar dari sana karena materi kursus tak cocok dengan pelajar­an sekolah, juga karena terlalu padat.

 

Menjamurnya kursus berhitung, menurut praktisi pendidikan Arief Rachman, sebenarnya berguna untuk membantu membangun logika anak. Re­potnya, tak semua metode itu cocok bagi anak karena karakter yang berbeda. Apalagi kunci belajar matematika bu­kan sekadar pintar berhitung, tapi juga menguasai konsepnya. "Mampu mem­buat anak bernalar, memecahkan ma­salah, dan menanamkan semangat pan­tang menyerah," ujar Arief.

 

Memang tak mudah membuat anak menyukai matematika. Bila keliru me­milih metode, bisa jadi anak selalu berkeringat setiap kali mengikuti pela­jaran matematika.

 

Tulisan: Widiarsi Agustina

TEMPO, 19-25 JUNI 2006

 

 
XXXX
Temukan batu Ababil, warga Saudi tolak uang Rp 38,8 miliar
Hasil Penelitian PISA Anak Kita Paling Bodoh (Sorotan Tajam Atas Kurikulum 2013)
More News

 

Home | Testimonial | Order | Member | Reseller | Opportunities | Contact Us
© 2006 - 2014 Kuasai Matematika SD SMP dalam Lima Hari - all rights reserved - Focus Web Design Service