Para Guru Mengatakan Bahwa Teknologi Adalah Investasi Terpenting untuk Sekolah

Para pendidik di sekolah berpendapatan rendah lebih membutuhkan perlengkapan kebutuhan sekolah yang lebih mendasar.

Para Guru Mengatakan Bahwa Teknologi Adalah Investasi Terpenting untuk SekolahMurid di Jubilee School, Jakarta, belajar Bahasa Mandarin. Bahasa itu kian berkembang pengajarannya di sekolah-sekolah di Indonesia. (Kompas.com/Yuniadhi Agung)
Para guru menginginkan penerapan teknologi yang lebih dari ruang kelas –dan cepat. Penelitian terbaru dari DonorsChoose.com, sebuah organisasi nonprofit yang membolehkan para guru untuk melakukan permintaan barang untuk kelas mereka sehingga para penyumbuang bisa memenuhi permintaan mereka, menemukan bahwa para guru meletakan teknologi sebagai sebuah pengeluaran paling penting untuk sekolah, setelah perlengkapan sekolah dan buku.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, DonorChoose mengatakan, permintaan para guru untuk tablet meningkat drastis dalam situs—dan para pendidik mengatakan tablet merupakan bagian dari teknologi yang paling mereka butuhkan. Namun, tak semua guru meminta produk teknologi pada tingkat yang sama. Mereka yang bekerja di sekolah dengan siswa-siswa yang kaya lebih mengharapkan untuk membawa teknologi kepada siswa-siswa mereka.
Guru yang bekerja di sekola dengan pemasukan rendah lebih mengkhawatirkan perlengkapan sekolah yang mendasar. Setelah buku, tablet menjadi permintaan terbanyak di daerah sekolah dengan ekonomi menengah ke bawah, ketika kertas dan “kerajinan kertas” menjadi permintaan terbanyak di sekolah-sekolah dengan ekonomi menengah ke atas.
Perbedaan akses teknologi pada siswa mampu membawa konsekuensi yang mengerikan, dimana mampu mengontribusi sebuah batas prestasi dan penyebaran kesenjangan digital antara siswa kaya dan miskin. Secara keseluruhan, terdapat enam persen gutu yang menyediakan tablet untuk para siswanya, dan hanya lima persen yang menyediakan layar komputer untuk setiap siswanya.
Sedangkan terdapat 45 persen guru mengatakan sekolah mereka dilengkapi dengan teknologi yang sudah usang yang membantu, dari hasil temuan laporan tersebut. Pengadaan teknologi di sekolah menjadi sangat penting bagi siswa yang tidak memiliki akses ke komputer atau internet di rumah.
Tahun 2013, sekitar 75 persen rumah tangga dilaporkan telah menggunakan internet, menurut data sensus Amerika Serikat. Sekolah-sekolah yang memiliki tingkat kesejahteraan tinggi dilengkapi dengan koneksi internet tercepat. Sekitar 39 persen sekolah dengan populasi siswa berekonomi menengah ke atas memiliki internet berkecepatan tinggi, jika dibandingkan dengan 14 persen sekolah dengan populasi siswa dari keluarga berpenghasilan rendah.
Sejak tahun 2000, hampir 600,000 guru membuat permintaan untuk menolong kelas proyek kelas mereka dan perlengkapan sekolah lewat DonorsChoose.org. Pada bulan Maret, pendidik dari Iowa, Tera Sperflage mengatakan bahwa ita memperoleh 3,500 dollar lewat situ tersebut untuk membeli perlengkapan kelas, termasuk permainan membaca dan gambar-gambar angka, untuk siswa-siswa kelas satu.
“Para siswa kami lapar. Mereka lapar pada makanan, lapar untuk cinta dan perhatian, dan lapar untuk belajar,” ujar Sperslage pada The Huffington Post waktu itu. “Mereka membutuhkan kita untuk membangun sekolah yang menghibur untuk mereka dan menarik. Mereka memiliki banyak hal dalam pikiran dan piring mereka.”

(Annisa Hardjanti / The Huffington Post)

Share from: National Geographics