Pendidikan Hendaknya Membangkitkan Kesadaran Dan Nurani

Pendidikan Hendaknya Membangkitkan Kesadaran Dan Nurani. Pendidikan Yang Hanya Memuja Kecerdasan Otak Tanpa Fitrah Akan Tergusur Oleh Robot Dan Komputer 

 generasi peradaban qurani

Kisah John Henry, manusia superkuat yang diabadikan dalam perangko di AS, pada akhirnya bisa dikalahkan oleh sebuah mesin uap. Kekalahan ini menjadi penanda berpindahnya era pertanian yang mengandalkan otot ke era industri yang mengandalkan mesin dan otak.

Pada era berikutnya kekalahan Garry Kasparov, master catur dunia, melawan komputer super canggih juga menandai berpindahnya era industri ke era teknologi informasi yang sepenuhnya mengandalkan otak.

Setelah itu, dunia era 90an sampai hari ini dilanda pemujaan berhala kecerdasan otak. Doktrinnya adalah makin banyak data yang diinput, makin banyak yang bisa diproses dan makin banyak mengeluarkan output.

Tanpa sadar era informasi telah menjadi agama baru yang merasuk sampai ke dunia pendidikan. Jargonnya adalah barangsiapa yang ingin memenangkan peperangan maka kuasailah informasi sebanyak banyaknya.

DI lapangan, prakteknya adalah isilah dirimu sebanyak banyaknya, maka kalian akan makin cerdas. Dalam doktrin ini manusia dianggap sebagai Machine Learning, mesin yang bisa belajar.

Belakangan teknologi informasi yang sudah berkembang amat pesat, menemukan bahwa para pakar artifisial intelijen atau kecerdasan buatan yang sedang berlomba menciptakan robot yang tidak hanya cerdas namun mampu berperilaku seperti manusia baru menyadari bahwa robot yang mereka buat tidak pernah akan punya kesadaran.

Mereka merekam jutaan giga byte data (Big Data) perilaku semua manusia di muka bumi lalu menuangkannya dalam jaringan syaraf tiruan sehingga bisa melahirkan robot yang bisa serupa dengan ciptaan Tuhan. Ya, mencipta robot yang punya kesadaran adalah obsesi menjadi Tuhan.

Nyatanya sampai hari ini para pakar itu hanya mampu menciptakan robot cerdas yang melebihi manusia dalam kecerdasan namun robot itu melakukan tanpa kesadaran atau tanpa menyadari perbuatannya.

Jikapun bisa diprogram seolah olah berperasaan dan kreatif namun menjadi pertanyaan besar, apakah semuanya dilakukan dengan perasaan atau hanya eksekusi algoritma stokastik.

Uji Turing yang dilakukan para pakar itu, sebuah uji interaksi manusia dengan komputer, ternyata menemukan bahwa interaksi komputer pada manusia adalah interaksi tak sadar alias interaksi yang tak kreatif dan tak berperasaan. Robot atau komputer canggih hanya mengeksekusi baris baris program semata.

Robot cerdas jenius mampu memproses milyaran data dan mensimulasi milyaran keputusan dengan algoritma stochastic canggih yang menghasilkan solusi dan keputusan terbaik dan tercepat, namun tetap saja semuanya dilakukan tanpa kesadaran.

Lalu mengapa dunia pendidikan masih memuja kecerdasan otak dengan menjejali anak anak kita sedini mungkin agar memorinya terisi sepenuh mungkin layaknya robot, jika sesungguhnya semua kerumitan matematis, komputasi numerik yang njlimet dapat dilakukan robot atau komputer super canggih dengan kecepatan dan keakuratan yang jauh lebih tinggi?

Jika kita menyadari, sesungguhnya ada ruang yang tak tersentuh robot dan komputer canggih, ruang yang hanya boleh Allah yang punya otoritas penuh, yang tak tergantikan oleh robot, ruang yang memuliakan manusia lebih daripada kecerdasan otak yaitu ruang kesadaran.

Maka sesungguhnya pendidikan terbaik adalah pendidikan yang membangkitkan kesadaran dan nurani.

Pendidikan yang mampu membangkitkan kesadaran fitrah keimanan berupa perasaan cinta pada Allah, cinta pada kebenaran, cinta pada keindahan dan keharmonian dstnya dengan kesadaran penuh.

Pendidikan yang mampu membangkitkan kesadaran fitrah belajar dan fitrah bakat berupa imaji imaji kreatif, aktifitas unik dan inovatif dstnya dengan kesadaran penuh.

Inilah pendidikan fitrah manusia, yang mampu membangkitkan kesadaran kesadaran di atas, yang bukan berangkat dari kecerdasan otak, tetapi berangkat dari kesadaran fitrah yang tidak akan pernah tergantikan oleh mesin, komputer maupun robot manapun.

Begitulah sejatinya pendidikan fitrah manusia sesungguhnya. Maka kembalilah kepada fitrah dengan pendidikan berbasis fitrah.

Jika ingin generasi anak anak kita tergusur oleh robot dan komputer, teruslah jejali mereka dengan kecerdasan otak, mereka akan kehilangan kesadaran fitrahnya dan akan segera dikalahkan oleh robot dan komputer.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

pendidikan peradaban,pendidikan fitrah,fitrah keyakinan,fitrah bakat,sumber rejeki,kreativitas anak,pendidikan anak di rumah,guru dan murid,orang tua dan anak,karakter anak,dunia pendidikan,renungan pendidikan,ust.Harry Santosa,Fitrah Based Education,Home Education,Home Schooling,ujian nasional,kurikulum sekolah,manusia jenius,golden age.

Share from : Ustadz Harry Santosa | berbagai sumber