Peneliti Temukan Cara Virus Zika Sebabkan Kerusakan Otak Janin

Menurut tim peneliti yang dipimpin oleh Yale University, infeksi virus Zika mengalihkan protein kunci yang diperlukan untuk pembelahan sel saraf pada janin.

Peneliti Temukan Cara Virus Zika Sebabkan Kerusakan Otak JaninIlustrasi (Thinkstock)

Menurut tim peneliti yang dipimpin oleh Yale University, infeksi oleh virus Zika mengalihkan protein kunci yang diperlukan untuk pembelahan sel saraf pada janin manusia berkembang. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Reports, menyimpulkan bahwa virus Zika mungkin rentan terhadap obat antivirus yang ada sehingga dapat mencegah gangguan perkembangan sistem saraf.

Salah satu efek samping dari infeksi virus Zika pada wanita hamil adalah risiko mikrosefali pada janin, di mana bayi dilahirkan dengan otak abnormal kecil.

Tim yang dipimpin Yale mengungkapkan bahwa virus membunuh sel-sel induk di otak dan mengganggu proses menciptakan sel-sel otak.

Analisis menunjukkan bahwa virus mengalihkan bentuk protein TBK1 dari tugas utamanya untuk mengatur pembelahan sel ke mitokondria, justru mulai merespon imun. Kekurangan protein di lokasi pembelahan sel, membuat sel-sel mati bukannya membentuk sel-sel otak baru, inilah yang mengakibatkan mikrosefali.

Data menunjukkan mekanisme ini dapat juga berkontribusi terhadap mikrosefali dengan infeksi virus kongenital umum lainnya.

Telah ada obat yang disetujui FDA, yakni Sofosbuvir. Sofosbuvir cukup menjanjikan dalam mencegah infeksi virus Zika pada sel induk saraf di laboratorium budaya, tampaknya juga ia menjaga phospho-TBK1 untuk tetap terlibat dalam pembelahan sel. Studi lebih lanjut perlu dilakukan untuk membuktikan kemanjuran obat sebagai terapi medis untuk virus Zika.

“Ada kebutuhan mendesak dalam mengidentifikasi pendekatan terapi untuk menghentikan infeksi Zika, terutama pada wanita hamil,” kata penulis utama Dr. Marco Onorati. Ia seorang peneliti di Departemen Neuroscience dan Kavli Institute for Neuroscience di Yale School of Medicine.

“Untuk sementara, kami berharap temuan ini dapat mengarahkan terapi yang mungkin meminimalkan kerusakan yang disebabkan oleh virus ini.” pungkas Dr. Onorati.

(K.N Rosandrani / sci-news.com, huffingtonpost.com)

Share from: National Geographics