Peran Ayah Tak Sekedar Pencari Nafkah Dalam Keluarga

By: Muhamad Fadhol Tamimy

Keluarga adalah pendidikan pertama bagi seorang anak manusia. Dalam keluarga pula pola asuh dan didikan menjadi arah penentu masa depan, mau dijadikan apa nantinya ia. Peran dari kedua orang tua penting untuk membentuk karakter perkembangan anak hingga ia besar dan siap terjun ke masyarakat.

Begitu krusialnya kerjasama antara kedua orang tua, menjadikan mereka tak dapat tergantikan oleh siapapun, termasuk baby sitter ataupun nenek mereka. Walaupun memang terkadang baby sitter ataupun nenek turut serta menyumbang kontribusi perkembangan mental anak kedepannya.

Mungkin peran dari sosok ibu sudah banyak yang menyoroti sepak terjangnya. Mulai dari mengasuh, mendidik, mengayomi, hingga tetek bengek keperluan keluarga lainnya. Selalu saja sosok ibu yangndiidentikan dengan kegagalan ataupun keberhasilan prestasi perandari seorang anak.

Bahkan di beberapa acara ajang pencarian bakat seperti televisi atau sesi sharing curhat para tokoh terkenal hingga artis pembawa sensasi, akan selau kompak jika ditanya oleh sang pembawa acara, “siapakah sosok di balik kesuksesan anda” jawabannya adalah ibunya. Entah dengan sikap yang lebay, atau air mata keharuan palsu karena di depan kamera, namun serempak sosok ibulah yang menjadi aktor utamanya.

Padahal hal itu tidaklah benar, ada sosok ayah yang sebenarnya juga memiliki peran yang sangat penting setelah ibu. Namun mengapa sosok ayah kadang kala terlupa di ucapkan? Padahal berkat beliaulah kita diajarkan bagaimana caranya bertahan hidup dan memiliki sisi ketegasan dan juga ketegaran dalam menjalani hidup?

Berikut ini adalah beberapa hal yang menyebabkan sosok para ayah terlupa atau tidak akrab dengan sang anak

Jarang Berada Di Rumah
Para ayah ditengah kesibukannya untuk mencari nafkah akhirnnya sering mengakibatkan kehadirannya jarang sekali dirasakan oleh sang anak dirumah. Pun ketika ada di rumah, sang ayah lebih sering datang di waktu anak tengah tertidur lelap. Atau di kesempatan lain sang ayah lebih sering menghabiskan di rumah untuk beristirahat tanpa mau di ganggu oleh anak. “yeee papah udah pulang, pah bantuin bunga/tejo/parini dlsbg dong, bukakan tutup botol, “ga lihat apa papa ini masih istirahat!! Sana minta tolong ke Emak mu saja. Seketika anak kecut pergi dari hadapan ayah. Sudah di tolak, di bentak pula, duh kessian.

Tak Mau Menyempatkan Waktu Bermain Bersama Anak
Hal berikut ini seringkali terjadi di rumah. Walaupun di waktu senggangnya, banyak dari para ayah masih saja sibuk untuk urusan kantor. Mengerjakan laporan di kantor bahkan hari libur, hingga pada saat anak menagih janjinya untuk di ajak ke taman bermain, sang ayah dengan mudah mengingkari janjinya. “yah, yah katanya kalo hari libur bunga/tejo/parini dlsbg.. mau di ajak ke taman ini… itu… ayo pah jalan”, “hehh bunga!! ndak lihat apa ayah mu ini masih sibuk, nanti saja”. Esok harinya di tagih lagi oleh sang anak, dan anak harus kembali kecewa karena mendapatkan jawaban yang sama, besok saja.

Taukah anda bahwa sebenarnya hal ini merupakan penyebab keengganan anak di kemudian hari untuk menceritakan segala permasalahan yang ia miliki kepada ayahnya. Lebih buruk lagi terhadap kedua orang tuanya, jika hal yang sama dilakukan oleh ibu. Inilah bibit-bibit yang membuat anak mencari pelarian di luar seperti pergaulan bebas, gangster, hingga kekerasan kolektif antar teman sebaya.

Untuk para ayah, sebenarnya dengan menyempatkan sekitar 1 atau 2 jam menepati janji bermain bersama anak, atau jalan bersama anak ke tempat hiburan. Hal tersebut sangat bermanfaat untuk mempererat hubungan emotional antara ayah dengan sang anak. Dengan begitu anak tidak akan mencari pelarian di luar dari kedua orang tuanya. Atau mengembangkan pemikiran bahwa orang tua yang paling penting hanyalah ibu semata. Akan lebih baik jika menyempatkan waktu dengan melibatkan ayah dan ibu, dengan hadirnya orang tua lengkap untuk mengisi hari sang anak, maka tingkat kebahagiaan anak dan kepercayaannya kepada orang tua pun akan lebih tinggi.

Enggan Untuk Memberikan Pujian
Keengganan dalam memuji ini kerap kali di lakukan oleh para pria, khususnya sang ayah. Rasa gengsi mengakui tersebut pada dasarnya memang banyak di lakukan oleh para pria. Namun celakanya terhadap anak pun terbawa-bawa romansa waktu sewaktu masih muda, yaitu gengsi dalam memberikan pujian kepada orang lain. Anak baru saja bisa melipat pakaian sendiri, lalu pamer kepada ayahnya, sang ayah cuma melihat lalu melengos menonton tv kembali. Sering bukan hal ini terjadi? Boro-boro cuma melengos, terkadang disertai bentakan lohh “bunga main di sana saja, papa sedang sibuk!!” duh pak anaknya tu sebenarnya cuma sekedar minta perhatian sejenak kok, ga ingin mengganggu.

Mengabaikan Anak
Pengabaian terhadap anak ini seringkali terjadi secara sadar ataupun tak sadar oleh para ayah. Hal-hal seperti menghindari saat anak meminta bantuan, memanggilnya, serta sengaja meninggalkan anak di saat menangis dan meminta ibunya untuk mendiamkan seringkali terjadi. Anak menangis karena dasi sekolahnya tidak ketemu, dan kebetulan sang ayah sedang membaca Koran sebelum berangkat bekerja, “yah dasi bunga nda ketemu”, “maa ini na dasinya bunga, kemana” dengan entengnya langsung membaca Koran kembali.

Menganggap Kewajibannya Hanya Mencari Nafkah
Dan hal inilah yang seringkali terjadi di sekitar kita. Para ayah menganggap bahwa kewajiban seorang ayah hanyalah mencari nafkah. Dan ibu-lah yang memiliki kewajiban dalam mendidik anak. Seringkali masalah mendidik anak ini pun kerap menjadi salah satu sumber pertengkarn dalam rumh tangga. Jika terjadi permasalahann pada anak, Ayah kerap kali cendrung lepas tangan dan beralasan bahwa ia telah lelah dalam bekerja di kantor, dan menganggap istrinya yang ada di rumah setiap waktu seharusnya bisa mengurus anak dengan baik.

Sudah sepatutnya peran dari kedua orang tua untuk, dapat saling melengkapi dalam pendidikan anak, terutama ayah yang sebenarnya juga memiliki peran krusial dalam mendidik perkembangan anak nantinya. Dengan mencurahkan waktu untuk ikut serta membantu istri dalam mengurus anak akan berdampak positif terhadap ikatan emosional antara ayah dan anaknya kelak. Sehingga tidak ada lagi anak-anak yang kan mengabaikan peran dari sosok ayah.

Sudah saatnya ayah tak sekedar manusia pencari nafkah dalam keluarga, namun jadilah ayah yang mampu menyeimbangkan antara mendidik anak dan mencari nafkah untuk keluarga.

Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber