islam-religius-edu-04

Peran Ilmuwan di Simpang Jalan

Peran Ilmuwan di Simpang Jalan.  Nobel Prize–winning economist Robert Solow pernah bilang begini :” di Negara Maju , penguasaan teknologi adalah satu satunya stimulus terbesar dalam neraca Pertumbuhan Ekonomi. Hampir sepertiga GDP merupakan buah dari inovasi berbasis kemajuan Teknologi”

Universitas dan Institusi Teknologi adalah Hub tempat berkumpul dan pusat difusi Creative Class kata Sosiolog Richard Florida. Kawasan inovasi seperti Silicon Valley dan Pusat Pengembangan Teknologi seperti BPPT, LIPI, ITB , ITS dst adalah Center of Excellent Inovasi berbasis IPTEK jika ada jaringan dukungan finansial disekitarnya.

Robert Solow has argued that,in advanced nations, technological advancement is the single greatest stimulus to economies, accounting for a staggering one-third of GDP growth.

Locally, research universities are hubs for the “creative class,” a term coined by author and urban theorist Richard Florida.

Regions like Silicon Valley; Route 128 near Boston; Research Triangle Park in North Carolina; and Austin, Texas, all economic powerhouses, find their intellectual core in one or more research universities.

Society has come to expect that science and technology will generate affluence and that affluence will make life better.
(ROBERTA B. NESS The Creativity Crisis Reinventing Science to Unleash Possibility)

2. Di Indonesia hal sebaliknya terjadi. Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK pernah menyatakan ada lembaga negara yang kurang berfungsi, yaitu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

JK menyayangkan lembaga yang diisi akademisi hebat itu tidak berfungsi.”Ada yang idle. Paling idle itu BPPT, banyak doktor, kantor sepi, baca koran.”.”BPPT itu bisa hilang ilmunya karena doktor-doktor tidak pernah dipakai,” imbuh dia. (liputan 6 SCTV Rabu 29,7,2015)

Mengapa pak JK sampai pada kesimpulan begitu, Wallahualam.

3. Di Indonesia jika dilakukan survey tentang 5 masalah utama yg perlu segera diselesaikan pastilah salah satunya adalah “masalah SDM”. Ketidak siapan SDM. Begitu kata para Ahli Bank Dunia dan ilmuwan Indonesia serta pejabat yg mengamini nya. Semua bilang kita perlu “transfer technology”, karenanya biar aja dulu tahap pertama yg kerja Tenaga Ahli Asing nanti setelah semua selesai baru kita.

Dari segi jumlah SDM kita mencukuoi. Tapi “skill gap” terus terjadi. Ketidak sesuaian antara jenis pekerjaan dab pekerja trampil bersertifikat tak pas. Mismatch.

SDM dan Bonus Demography ditonjolkan sebagai pemanis akan tetapi dibarengi keluhan bahwa semua kurang terampil dan tak ada yg cocok dengan pekerjaan tersedia.

Ada ribuan Universitas, jutaan tempat kursus, belajar bahasa Inggris sejak SD tetapi keluhan tentang kekurangan keterampilan bahasa dan skill set untuk masuk lapangan kerja tetap muncul.

Apakah ini realitas atau alasan yg digunakan untuk mengontrak tenaga kerja asing dari Jepang, Afrika, Tiongkok atau India kita krang faham.

Apalagi PII juga sudah bilang kita kekurangan 70 000 Insinyur u proyek infrastruktur.

Tak heran jika ada tender ribuan bis, gerbong kereta api, gedung jembatan dan lain sebagainya yg dimenangkan Industri dari Negara lain.

Mengapa mereka menang ? Katanya karena harga murah dan mau mengajar berikan transfer teknologi.

Ternyata waktu 71 tahun Merdeka tidak cukup untuk membuat kita percaya pada Insinyur dan Scientist Indonesia.

Quo Vadis. We are in the cross road. Ilmuwan disimpang jalan. Menetap di Indonesia dibilang kurang terampil dan tak dapat kesempatan berenang, nyebrang keluar negeri bekerja dinegeri orang dikatakan kurang cinta Negeri Sendiri ?

Selamat merayakan HarTekNas. Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 10 Agustus 1995 – 10 Agustus 2016. Salam

Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber