Pikachu, Charmander, dan Ahmad Albar di Kota Kita

Bernardus Djonoputro
Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan,
Lulusan ITB jurusan Perencanaan Kota dan Wilayah,
Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan,
Vice President EAROPH (Eastern Region Organization for Planning and Human Settlement),
Tim ahli APEC Center for Urban Infrastructure Financing bermarkas di Melbourne, Fellow di Salzburg Global

Kompas, 11 Agustus 2016

Para pembaca pasti pernah menerima pesan berantai tentang memori kisah jadul melalui media sosial. Di salah satu group alumni, saya dikirimi daftar berbagai fenomena, kejadian, nama tokoh dan gambar bagian sudut kota dari tahun 1970-an.

Menurut kawan tersebut, kalau masih ingat hal-hal tersebut maka saya termasuk kalangan yang masa kecilnya bahagia. Saya diingatkan untuk menyadari diri mulai tua!

Bagi saya, Bandung, kota yang selalu memesona sebagai hub kehidupan kreatif dan semangat muda. Sejak menyandang Paris van Java awal 1900 sampai sekarang berpenduduk lebih dari 3 juta, kita terus terpesona oleh “nyawa” Bandung, biar pun sekarang macet dan semrawut semakin menjadi fitur utama kota ini.

Ketika saya sekarang bersepeda dari simpang Dago, turun menyusur Dipati Ukur, ke Gedung Sate, Jalan Banda, dan mengayuh santai sepanjang jalan Progo, memori indah mengais pikiran saya melayang ke masa 40 tahun lalu ketika hidup saya lebih simpel, tidak perlu memikirkan hidup.

Hari-hari dilalui dengan bersepatu roda sepanjang jalan Progo, bersama teman teman karib, tanpa beban memikirkan dunia akan menjadi apa kelak.

Waktu itu almarhum Gito Rollies adalah ikon yang melanda kota Kembang, reputasinya membahana, jalanan ramai dengan tapak-tapak seni rockers gahar ini.

Taman selatan Gedung Sate berbukit-bukit timbunan tanah saat almarhum Popo Hartopo terbang tinggi merajai arena motor trail Indonesia. Di situ pula hajatan anak muda Bandung membuat konser Rock terbuka di taman tersebut. Siapa lagi kalau bukan God Bless dan Ahmad Albar-nya.

Indahnya memori awal 1970-an, ketika kota Bandung masih lengang, penuh pemuda bergaya, dan mata masih bisa segar menikmati karya Schumacher, dari satu gedung art deco ke art deco lainnya. Masih segar dalam bayangan saya wangi kretek, aroma nakal mencurigakan seperti canabbis, dan harumnya bandrek pedas.

Ya, aroma masa muda yang serta merta membawa kita pada masa-masa di mana KTP masih bisa dipakai hutang makan di warung karena belum ada kartu kredit.

Rona kehidupan kota di masa lalu, dan sekarang, sampai yang akan datang, akan selalu terbentuk dari jiwa dan perangai warganya. Manusia tumbuh bersama fenomena sekitarnya yang terus berevolusi menciptakan tren budaya, gaya hidup, busana, musik, bahkan politik.

Kini kota seperti Bandung, dan kota-kota besar Indonesia seperti Surabaya, Medan, Makassar, Semarang, bergulat dengan waktu untuk mampu bertahan seratus tahun ke depan. Kota menjadi ruang bagi warganya berevolusi sebagai kaum urban.

Maka kita pun serta merta ditantang untuk berani meneropong ke depan, seperti apakah “nyawa” kaum urban kita nanti?

Kini tiba tiba kota-kota dunia mendapat tantangan baru, bahkan tak terbayangkan sebelumnya. Serangan mendadak kaum urbanis baru, yaitu monster monster macam Venusaur, Bulbasaur, Pikachu dan pembawa api Charmander tiba-tiba memenuhi ruang kota, memporak porandakan tatanan konvensional fisik kota.

Kaum urbanis baru ini membawa wabah baru di kota yang sudah sempit. Mereka secara masif merangsek ruang-ruang publik, privat bahkan instalasi penting. Kalau dulu, ikon-ikon seperti The Beatles perlu tahunan berkarya untuk menjadi bagian “nyawa” kota Liverpool, sekarang para monster datang dalam jumlah tak terhitung, dan terus muncul di mana-mana.

Wabah baru ini terjadi di kota, warga terjangkit fixasi terhadap para monster. Ciri-ciri akibat wabah ini pada warga kota sangat mencolok, yaitu kepala yang selalu menunduk, fokus terganggu karena obsesi, dan mata jelalatan sambil mengacung-acungkan smart phone. Tersenyum, ketawa, lirik-lirik, tak peduli sekitarnya.
Warga kota berbondong-bondong datang ke pusat perbelanjaan bukan untuk belanja. Namun karena mal sudah berubah menjadi tempat bertebarannya para monster. Poke Gym bisa membuka cabang di seluruh pojok kota, di mana para monster berkeliaran dan aktivitas warga bertumpu.

Pola beperjalanan warga di kota berubah. Alih-alih bermobil, kita tidak lagi harus beli bensin karena suplai PokeBall lebih penting.

Nampaknya selain urbanisasi, kita sedang mengalami “urban gamification”, di mana teknologi disruptive seperti permainan dan aplikasi mulai mengubah ruang publik kita. Bagi para perencana kota dan pemimpin kota, perubahan ini teramat penting untuk dicermati.

Bahkan ahli perkotaan Patrick Lynch dalam ArchDaily mengatakan bahwa permainan seperti Pokemon, dan pelayanan berbasis aplikasi, telah berhasil mengubah ruang publik. Yaitu membuat ruang publik kita mudah dicapai dengan nyaman. Namun perubahan ini tidak konvensional, karena prosesnya sangat demokratis.

Teknologi yang ada memungkinkan kita untuk melakukan pemetaan siapa saja yang menggunakan ruang publik, dan memungkinkan kita untuk mengajak partisipasi, sehingga melakukan bottom up planning bisa lebih mudah.

Hadirnya teknologi disruptive dalam ruang kota, menyadarkan kita perlunya kebijakan program pembangunan yang juga progresif. Semakin dominannya “Internet of things” dalam kehidupan perkotaan.
Fenomena bisnis vendor pun tak bisa dipungkiri menjadi aspek penting. Contohnya, sambil mengubah rona kota, nilai saham Nintendo pencipta Pokemon naik 6 kali lipat dan menaikkan tambahan nilai perusahaan sebesar 7 miliardollar AS.

Ya, ruang kota menjadi semakin oportunistik. Dan kota semakin berbasis permintaan instan (ubiquitous) atau on-demand. Augmented reality bertabrakan dengan formalitas sektoral. Demikian pula formalitas bentuk fisik kota, perlu kebijakan perencanaan yang visioner, progresif dan “tanggap disrupsi”, untuk menghindar dari risiko akibat konflik-konflik horisontal dan vertikal di masyarakat urbanis yang terus berevolusi.

Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber