Mengintegrasikan Fitrah Manusia Dengan Fitrah Alam

Fitrah Pendidikan Anak Nelayan

Fitrah pendidikan anak pedesaan di kampung nelayan

Seorang teman bercerita tentang anak anak desa nelayan di Halmahera yang setiap pagi selepas Sholat Shubuh sudah berpeluh ceria dan bercanda di dermaga, membantu mengangkati keranjang keranjang ikan dari para nelayan yang baru selesai melaut.

Tidak hanya itu, anak anak nelayan inipun ikut memilih, menimbang dan menghitung ikan ikan tadi di pasar lelang ikan. Mereka, anak anak nelayan ini sangat piawai dalam hal ini. Sudah pasti, anak anak nelayan ini jauh lebih hebat dari guru guru formal yang dikirim dari tanah Jawa, yang merasa ditempatkan mengajar di desa nelayan terpencil sebagai musibah.

Barangkali ada ribuan desa nelayan di seluruh penjuru Indonesia dengan pemandangan yang sama setiap hari. Sebuah sudut keindahan masa anak anak di Indonesia dimana fitrah belajar, fitrah keimanan dan fitrah bakat berinteraksi dengan fitrah alam dan fitrah kehidupan masyarakat. Sebuah proses pendidikan alamiah yang sangat menyehatkan pertumbuhan fitrah.

Namun sayangnya, persekolahan nasional sangat abai dan kufur terhadap kekhasan, keunikan dan kearifan yang Allah berikan kepada setiap desa dan setiap daerah di Indonesia. Anak anak nelayan itu di sekolah sama sekali tidak belajar yang relevan dengan realita alam dan realita sosialnya.

Anak anak nelayan itu masih saja dicekoki, “dua apel, lima mangga, pergi ke sawah, jalan jalan ke gunung” dstnya. Pembelajaran yang tidak relevan terhadap realita fitrah alam dan realitas fitrah sosial serta fitrah kearifan adalah bukan pendidikan, namun pengkufuran.

Anak anak nelayan itu masih saja dihadapkan pada dilema antara bersekolah dan melaut. Jika bersekolah maka tidak melaut, jika melaut maka tidak bersekolah. Padahal ada banyak hal yang dapat dipelajari di laut dan di pantai.

Ada banyak pengetahuan dan ilmu pengetahuan yang dapat diperoleh dan dibutuhkan serta diintegrasikan dalam proses pendidikan anak anak desa nelayan. Sejak perikanan tangkap, budi daya ikan serta hasil laut serta pengolahannya, navigasi perbintangan, pembuatan kapal, energi terbarukan berbasis gelombang, bayu dan ganggang, konservasi hutan mangrove dan karang dstnya.

Buruknya sistem persekolahan nasional adalah potret dan hasil kemalasan untuk merelevankan secara mengakar semua potensi-potensi fitrah keunikan lokal dan kearifan lokal ke dalam proses pendidikan. Buruknya hasil sistem persekolahan kita adalah hasil obsesi ingin berkompetisi dengan negara lain, bukan sibuk bersurpetisi pada potensi-potensi keunikan lokalnya.

Pendidikan selalu diidentikan dengan persekolahan, dan celakanya persekolahan selalu dianggap sebagai persiapan belajar dan bekerja setinggi tingginya di kota. Persekolahan selalu identik dengan gedung dan kelas bertembok dan berpagar, padahal belajar bisa dimana saja.

Anak anak nelayan sesungguhnya bisa belajar di atas kapal di tengah laut, belajar di pasar ikan, belajar di dermaga, belajar di pantai, belajar di hutan bakau dstnya.

Lalu ada yang sinis bertanya, apakah anak anak desa tidak boleh bekerja dan belajar di kota. Tentu saja boleh, tetapi mereka harus kembali ke desanya untuk memulainya dari sana, menjalani misi membangun peradaban desanya sebagaimana mereka ditakdirkan Allah lahir di belahan bumi itu.

Sistem persekolahan nasional juga gagal merelevankan fitrah bakat anak anak nelayan kepada fitrah keunikan alam dan fitrah realita sosial kehidupan masyarakatnya. Bisnis perikanan dan kelautan atau kemaritiman adalah rantai proses yang memerlukan bakat anak anak nelayan, sejak bakat kepemimpinan, bakat penelitian, bakat pemasaran, bakat teknikal enjiniring, bakat interpersonal dstnya.

Pantas saja, sejak Indonesia merdeka, tidak pernah kita dengar ada desa nelayan berubah menjadi kota perikanan (mina politan). Daerah pesisir adalah barisan desa desa miskin dan tertinggal (ditinggalkan) dari Sabang sampai Merauke. Kemiskinan selalu identik dengan keterjajahan dalam semua hal.

Pantas saja urbanisasi membanjir ke kota, membawa anak anak nelayan menjadi buruh dan pekerja, mengais ngais nafkah, dstnya. Mereka merana karena tercerabut dari akar desa, akar budaya, akar kearifan atau akar fitrah alam dan fitrah sosialnya, sebagaimana desanya merana.

Pantas saja kekufuran ini kemudian berwujud ketergantungan dan ketertindasan. Kita saksikan bahwa sampai hari ini Indonesia adalah negeri maritim yang masih impor garam, yang masih impor ikan, yang masih impor tepung ikan untuk makanan ikan budidaya, yang masih impor kapal nelayan modern, yang masih tidak mampu membangun jaringan logistik dan pemasaran ikan, yang masih tidak mampu mengkonservasi pantai dengan baik, yang masih tidak mampu membangun energi terbarukan dari laut dstnya

Pantas saja budaya dan kearifan lokal tergerus. Pantas saja ulama dan pesantren di pesisir habis satu demi satu. Lalu diantarkannya kita kepada adzab akibat kekufuran ini. Lalu kita berteriak teriak ketika ada kasus SARA, kasus separatisme, kasus pemurtadan, kasus penjualan manusia (human traficking), kasus penyelundupan lewat pantai, kasus penjarahan ikan oleh kapal kapal asing dstnya.

Sesungguhnya pertahanan laut dan pantai terbaik bukanlah angkatan laut, polisi laut yang tangguh, tetapi desa desa nelayan yang hebat mandiri di sepanjang pesisir dari Sabang sampai Merauke.

Mungkin belum terlambat, maka segeralah bertaubat. Mari kita rancang dan implementasikan pendidikan yang mampu merelevankan fitrah keimanan, fitrah belajar dan fitrah bakat anak anak kita dengan fitrah keunikan alam, fitrah keunggulan lokalitas, fitrah kearifan lokal serta realitas sosial dstnya.

Ingatlah bahwa para Nabi adalah mereka yang selalu menginteraksikan fitrah dirinya dengan fitrah alam dan fitrah kehidupannya. Nabi Muhammad SAW sejak disusui sepenuhnya berinteraksi dengan alam dan lokalitasnya serta kearifan lokalnya.

Beliau fasih dalam bahasa ibu (mother tounge) di pedesaan bani Sa’diah, yang kemudian kemampuan ini mengasah kepekaan jiwa, kecintaan pada kaumnya dan sensifitasnya pada problematikanya.

Beliau memiliki kecintaan kepada alam beserta keharmoniannya, karena hidup di alam pedesaan yang berudara segar dengan segala keselarasannya. Maka pesan pesan Islam adalah pesan kuat tentang larangan berbuat kerusakan di diri dan di alam semesta, hal yang tidak diperoleh oleh mereka yang tidak pernah berinteraksi dengan alam sejak anak anak,

Beliau memiliki fisik yang kuat yang konon setara 10 orang dewasa, karena sejak balita sudah hidup di alam pedesaan dan mampu menapaki bukit sampai ke puncak. Beliau memiliki leadership yang tinggi karena juga belajar menggembalakan kambing di pedesaan.

Beliau mengenal betul karakteristik masyarakatnya, karena sejak kecil sudah berinteraksi penuh dengan realitas sosialnya. Maka kita saksikan bahwa beliau bukan hanya penyeru kebenaran langit namun juga mampu memberi solusi solusi membumi bagi problematika kaumnya.

Dan akhirnya kita sadar bahwa sejarah sebuah peradaban hebat bukan di mulai dari jantung kekuasaan Kekaisaran Persia dan Imperium Romawi, namun dimulai dari desa terpencil, tertinggal dan diabaikan dunia, yang bernama desa Mekah dan desa Yastrib (Madinah) yang kemudian menerangi dunia selama berabad abad. Apakah Allah swt lalai menempatkan RasulNya di desa?

Mari kembali kepada pendidikan berbasis fitrah, yang mampu mengintegrasikan fitrah manusia dengan fitrah alam dan fitrah kehidupannya,

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

pendidikan peradaban,pendidikan fitrah,fitrah keyakinan,fitrah bakat,sumber rejeki,kreativitas anak,pendidikan anak di rumah,guru dan murid,orang tua dan anak,karakter anak,dunia pendidikan,renungan pendidikan,ust.Harry Santosa,Fitrah Based Education,Home Education,Home Schooling,ujian nasional,kurikulum sekolah,manusia jenius,golden age.

Incoming search terms:

Share from : Ustadz Harry Santosa | berbagai sumber