Sebuah Belajar dan Proses

Kelas Pak Hoed

Belajar merupakan sebuah proses. Proses menjadi tahu, proses untuk mampu mengerjakan sesuatu, proses menjadi lebih baik, dan proses membangun hubungan harmonis dengan lingkungan sekitar. Proses ini merupakan kekuatan dan inti belajar.

Dalam era perubahan secara global di semua aspek kehidupan, ternyata bukan kemampuan menghafal yang memegang kendali. Keterampilan berinteraksi dengan orang lain, negosiasi, mengambil keputusan, fleksibilitas, berpikir dan bertindak kreatif, serta kemampuan mengembangkan diri merupakan kunci sukses.

Semua itu hanya akan didapat bila belajar dibangun dengan proses yang tepat. Pengetahuan merupakan sesuatu yang harus dibangun, bukan yang ditransfer. Belajar terjadi ketika ada kegiatan yang menambah atau meningkatkan keterampilan belajar (learn how to learn).

Belajar membutuhkan tahapan, sistem sosial, sistem penunjang, dan prinsip-prinsip yang mendorong anak untuk memecahkan masalah secara aktif dan kreatif, sebagai pemenuhan rasa ingi tahunya. Anak menemukan konsep/informasi/fakta dan membangunnya sehingga terjadi penguasaan konsep.

Pada fase awal, belajar mensyaratkan adanya rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu tidak muncul begitu saja, tapi hadir sebagai sesuatu yang memang direncanakan. Sehingga belajar merupakan cara untuk memuaskan rasa ingin tahu. Ini merupakan motivasi intrinsik yang begitu hebat.

Masih di awal, anak selalu dirangsang untuk menemukan manfaat bagi dirinya, Apa Manfaatnya BagiKu? (AMBaK). Ini mengarahkan anak untuk selalu punya tujuan atau target sendiri. Kondisi yang harus diciptakan adalah suasana yang penuh tantangan, tapi sekaligus penuh cinta. Tantangan yang penuh cinta.

Kemudian anak diajak mengenali masalah /fenomena. Keterampilan yang dibangun adalah mengajukan hipotesa dan melihat kesalingterhubungan. Kemudian dimunculkan sikap berani mencoba. Mencoba dengan mempertimbangkan data atau informasi yang telah didapatkan sebelumnya. Anakpun menggunakan daya kreativitas dan kemampuan berpikir kritisnya untuk menjawab masalah. Sikap yang dikembangkan adalah pantang menyerah.

Kesabaran menjadi kata kuncinya. Sabar mengantarkan anak melalui tahap demi tahap pembelajaran, yang di dalamnya ada kegagalan dan juga kesuksesan. Hendaknya anak tidak selalu dihindarkan dari kegagalan. Kegagalan dalam proses belajar adalah hal yang lumrah, sangat wajar. Namanya juga belajar. Kalau tidak pernah atau tidak boleh gagal, buat apa belajar.

Sabar dan menahan diri mengantarkan anak untuk berpikir, mencari ide. Tentunya anak perlu merasa aman dan nyaman. Komentar dan kritik negatif dihindari. Yang ada adalah dukungan dan motivasi berupa kritik membangun yang disampaikan dengan tetap menjaga harga diri anak.

Akhirnya, setelah semua tahap pembelajaran dilalui, tibalah saat merayakannya. Ada dua hal yang patut dirayakan; keberhasilan menyelesaikan belajar dan keberhasilan mencapai tujuan belajar. Kedua keberhasilan tersebut sama pentingnya.

Manfaat perayaan adalah menghargai usaha dan membangun motivasi untuk sukses selanjutnya. Perayaan bisa dengan banyak cara, mulai dari bertepuk tangan atau juga lompatan kegembiraan.

Semua proses tadi dikemas dalam suasana yang menyenangkan. Kesan menyeramkan, susah, atau membosankan tidak seharusnya ada. Menyenangkan bukan hanya kegiatan yang asyik, tetapi juga karena anak tidak dituntut melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Anak diberi aktivitas sesuai dengan kemampuannya. Yang selalu diharapkan ada diri anak adalah melakukan sesuatu dengan kemampuan terbaik.

Hal ini menjadikan anak tidak perlu terbeban oleh faktor-faktor di luar dirinya. Sehingga anak akan merasa nyaman bekerja, selanjutnya rasa percaya dirinya tumbuh dan berkembang. Efek lanjutannya adalah anak merasa semakin nyaman dan bernilai yang membuat kinerjanya juga semakin baik, sehingga kian percaya diri. Ini adalah lingkaran malaikat yang memacu anak menuju perkembangan terus menerus.

Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber