Sekolah Alam dalam Ideologi Kompetisi

Wicak Amadeo

Kompetisi menciptakan dunia hectic yang mirip pacuan kuda. Padahal, nilai yang diciptakan sesungguhnya tidak bisa banyak bahkan makin mengecil, karena kompetisi tidak dikendalikan oleh nilai (value driven).

Sebenarnya kompetisi tidak menarik lagi, yang menarik adalah surpetisi. Apa itu surpetisi? Edward de-Bono mengenalkan idea ini sebagai bentuk lateral thinking untuk fokus pada pacuan sendiri.

Jika kompetisi memerlukan pesaing maka surpetisi tidak, karena surpetisi fokus pada value driven, fokus pada pengendalian nilai yang baru. Dan makin hebat jika nilai-nilai ini berangkat dari potensi keunikan sendiri.

Kita lihat Apple dan Google adalah perusahaan yang sibuk dengan dirinya sendiri, sibuk menciptakan nilai sendiri yang unik. Gerakan dan effortnya difokuskan dan dikendalikan untuk menciptakan nilai-nilai baru. Walhasil lahirlah produk anyar yang unik dan legendaris, pelanggan yang loyal karena menjadi bagian dari prestise atas nilai unik yang diciptakan serta dunia masa depan yang dihadirkan dalam genggaman. Dan tentu saja anak-anak muda yang sehat, kreatif, inovatif dan hidup seimbang.

Dunia sekolah sejak era industri di seluruh belahan dunia memang telah begitu dalam menanamkan karakter dan budaya kompetisi untuk saling meniadakan dan saling membunuh.

Dari waktu ke waktu anak-anak di sekolah selalu dalam mode kompetisi. Orang tua akan memberitahu anaknya, “kau tahu, kamu harus lebih baik dari saudaramu, kamu harus lebih baik daripada temanmu di sekolah, kamu harus lebih baik dari tetanggamu”.

Ideologi Kompetisi

Kompetisi sebagai ideologi yang dikonstruksikan dalam teori evolusi dengan jargon “the survival of the fittest”, dalam lapangan biologi bisa jadi hanya sekedar idea, namun dalam panggung sosial, hukum, budaya, pendidikan dan politik, mendorong cara berfikir dan berperilaku “meniadakan” satu dengan yang lain. Dalam pandangan ini mereka yang survive alias menang (win) adalah mereka yang paling mampu unggul mengalahkan yang lain (win lose).

Ada sebuah kisah, Viru viru sahastrabudhhe, tentang seorang rektor di institute technology bergengsi di India, yang terobsesi dengan keunggulan kompetisi. Viru selalu mendongengkan kisah burung cockoo pada mahasiswa angkatan baru di kampusnya. Burung ini hidup dengan cara membunuh anak burung lain dari sarangnya, lalu menempati sarang itu untuk bertelur. Dongeng ini menjadi doktrin kompetisi, dan selalu didongengkan sambil membuang kotak yang berisi ribuan lamaran calon mahasiswa yang gagal. Kisah ini memang cuma rekaan dalam film, namun realitanya ada dimana-mana.

Dalam panggung sosial, kompetisi ini telah banyak memakan korban dan juga memakan banyak energi serta gagasan-gagasan yang baik. Banyak kelompok atau komunitas di masyarakat kemudian menjadi arogan dan sulit berkolaborasi dengan satu alasan yaitu kecurigaan atas kompetisi.

Dalam panggung politik praktis, kompetisi lebih parah lagi. Bukan kepentingan bangsa yang dikedepankan namun arogansi kelompok. Politik praktis memang area pertempuran yang dipindahkan dari battle field ke parliament, diformalkan sejak era industri dimulai. Jadi siapa yang tergiur oleh pusat pusaran kekuasaan, maka bersiaplah untuk ternoda dan diperkosa.

Lihatlah ada rasa bangga dan harapan peluang untuk eksis jika orang lain atau komunitas lain meredup atau diredupkan. Dalam keadaan “di atas angin” dia melupakan yang lain, dalam keadaan “di bawah angin” dia berusaha meredupkan yang di atas. Mirip gaya ranking-ranking-an di persekolahan konvensional.

Masalah dengan kompetisi adalah bahwa ketika anak-anak masuk ke dalam sistem pendidikan di dunia sekolah, mereka mulai dikondisikan oleh orangtua. Dalam hal kompetisi, anak-anak ini diharuskan lebih baik daripada orang lain.

Sejatinya, makna keberhasilan itu bukanlah harus “menang kalah” (win lose atau lose lose). Dalam sistem bisnis, sudah berkembang filosofi manajemen dari situasi menang menang (win win) dalam waktu yang lama. Mengupayakan Win-Win jauh lebih sulit tetapi jauh lebih berkah dari pada berkompromi win-lose atau saling menjegal atau kabur (lose-lose).

Makna keberhasilan ini akan terbawa ke dalam sistem masyarakat dan pendidikan. Perlu diciptakan sebuah situasi yang lebih dari sekadar “menang menang” sehingga setiap orang dapat bekerja sama untuk sukses bersama. Dan kerjasama sebenarnya akan membawa kesuksesan dan kesejahteraan yang setara bagi semua orang.

Makna “keberhasilan” perlu didefinisikan ulang, bukan dengan persaingan, sebagaimana ucapan-ucapan, “Hei aku nomor satu dan kamu nomor 2 dan 3 dan 4 jadi aku yang terbaik.”

Pertanyaannya, mengapa tidak kita semua saja yang menjadi pemenangnya?

Sebagai orangtua, bahkan pendidik, sejatinya ingin melihat semua anak didiknya menjadi pemenang. Jika ada 50 anak di kelas atau 1000 anak di lingkungan komunitas, tentu ingin melihat semua dari mereka menjadi sukses. Bukan hanya 5%, itu tidak adil, tidak hanya 5 atau 10 siswa yang mendapatkan ranking atau juara dan meninggalkan sisanya di belakang. Inilah Titik Kunci dalam pendidikan yang perlu didefinisikan ulang dalam memaknai keberhasilan.

Sesungguhnya berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirot) berbeda makna dengan kompetisi yang saling meniadakan. Berapa banyak komunitas baik atau orang baik yang akhirnya mati karena budaya kompetisi yang meniadakan bukan saling menguatkan.

Orang-orang atau komunitas-komunitas yang merasa ingin eksis lalu tidak berkenan dalam ajakan untuk kolaborasi bersama. Mereka memilih berkompetisi agar terlihat lebih bersinar atau paling bersinar.

Siapakah yang lebih bersinar daripada cahaya-cahaya yang berkumpul dengan cita-cita dan arah yang sama? Berlomba-lombalah dalam memberi sinar bagi yang lain bukan meniadakan. Berlomba-lombalah dalam membesarkan sinar bersama bukan sinar sendiri lalu menempatkan yang lain sebagai bayangannya.

Bukankah semua kebaikan dalam Al-Qur’an selalu diperintahkan dalam bentuk amal jama’i (community based action)?

Konteks Sekolahalam

Sekolahalam yang dibangun dengan semangat berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirot) dimana semua kebaikan, dalam Al-Qur’an, selalu diperintahkan dalam bentuk amal jama’i (community based action) adalah sebuah semangat “pendobrak” diantara semangat “kompetisi” yang masih hidup dan mendominasi dunia sekolah.

Pendekatan yang dominan digunakan dalam Konsep Sekolahalam adalah siswa diajak untuk melalui serangkaian kegiatan (pengamalan dan pengalaman), setelah itu distrukturkan. Hal ini berbeda dengan umumnya pendidikan di Indonesia, dimana siswa mempelajari buku pelajaran dulu, baru kemudian diamalkan.

Maka, pendidikan yang totalitas (total education) menurut Sekolahalam (dalam Belajar Bersama Alam, Suhendi dan Septriana Murdiani) akan mampu membawa siswa dalam tahap berikut:

1. Tambah pengalaman, tambah pengetahuan (ranah IQ)
2. Tambah pengalaman, tambah tangkas (ranah PQ, physical/power quotient)
3. Tambah pengalaman, tambah bijak (ranah EI, emotional intelligence)
4. Tambah pengalaman, tambah iman (ranah SI, spiritual intelligence)

Sekolahalam tidak menerapkan Sistem Ranking

Sekolahalam menyadari bahwa IQ tiap anak berbeda, jenis kecerdasannya berbeda, bidang minatnya berbeda, sehingga tujuan Sekolahalam adalah mendampingi tiap anak untuk mencapai potensi terbaiknya.

Ranking atau urutan peringkat tetap dapat digunakan sebagai indikator pencapaian seorang anak. Misalnya, sang guru mengetahui bahwa anak ini mampu berprestasi lebih di bidang matematika, namun ternyata urutan peringkatnya rendah. Maka guru dapat memanfaatkan informasi dari ranking matematika anak, untuk memotivasi sang anak, agar bersungguh-sungguh dalam mengeluarkan potensinya.

Karenanya, dalam Graduation Day di Sekolahalam, biasanya, orangtua telah mendapat “suguhan” dalam bentuk “predikat” untuk setiap anak sebagai yang “ter-” atau “paling” misalnya paling “kreatif”, paling “ceria”, paling “rajin”, dsb. Predikat ini mencerminkan adanya semangat bahwa setiap anak adalah “juara” sesuai dengan kategori masing-masing. Tidak ada yang akan merasa sebagai pecundang atau yang kalah. Semuanya adalah pemenang.

Pertanyaannya, apakah Graduation Day selanjutnya akan tetap sejalan dengan semangat Graduation Day sejak awal atau justru akan terseret pada “ideologi kompetisi” yang menjangkiti dunia sekolah pada umumnya?

Pengumuman-pengumuman yang disampaikan pihak sekolah akan membuktikan apakah akan tetap “sejalan” dengan “ideologi kompetisi” atau tetap pada “Khittah Sekolahalam” dengan semangat “pendobrak” …

Kompetisi Dalam Kisah

Ada kisah menarik dari beberapa Sekolahalam yang siswanya mengikuti OSN, O2SN, ataupun OS Kuark. Jika siswa-siswa SDN umumnya adalah “perwakilan” sekolah karena telah berhasil “menyisihkan pesaingnya” di sekolah, maka siswa-siswa Sekolahalam bukanlah “siswa pilihan” sekolah tetapi “siswa peminat lomba sains” yang notabene didukung orangtuanya serta tidak ada proses seleksi di sekolah. Makanya, jumlah peserta siswa Sekolahalam di OSN dan O2SN umumnya cukup banyak. Tampilan fisik mereka juga sangat mencolok karena umumnya “berwajah ceria” dan “aktif berbincang” dengan sesama siswa.

Jika pernah mengikuti dan terlibat dalam urusan “kompetisi” sejenis ini, pasti akan merasakan “aroma kompetisi saling meniadakan dan membunuh” ini. Pengalaman Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang diliput Kompas beberapa waktu yang lalu adalah kisah yang “lazim” terjadi karena adanya “perebutan kue” diantara mereka.

Jika menggunakan cara berpikir kreatif yang lateral, serta berdasarkan juknis bahwa OSN di tingkat Provinsi hanya untuk SD, maka tim MI perlu bekerja sama segitiga siswa-guru-orangtua agar mengabaikan OSN berikutnya dan menjajaki event lain dengan skala regional dan internasional, misalnya Science Works Festival dan sejenisnya, yang bisa dijadikan ajang unjuk prestasi dan karya yang sangat bermanfaat bagi tahapan perkembangan siswa dalam belajar dan berkarya, bukan sekadar kompetisi yang saling meniadakan …

Banyak sekali event seperti itu yang tak butuh biaya besar tetapi bisa dimanfaatkan sebagai ajang unjuk karya dan prestasi dengan skala nasional, regional dan internasional. Jadi tak perlu “mati gaya” dengan “perebutan kue” yang mirip ayam berebut jagung yang disebar di lapangan …

Para siswa Sekolahalam, sebaiknya tak perlu selalu latah mengikuti ajang kompetisi seperti OSN, O2SN dsb. Dengan semangat “surpetisi” lebih baik fokus pada “projects” berupa karya yang dapat bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan terdekat sehingga Sekolahalam dapat menjadikan dirinya sebagai OASE bagi pemberdayaan masyarakat sekaligus ajang berkarya dan berprestasi bagi siswa dan komunitas di sekitarnya.

Surpetisi

Contoh surpetisi berikut dapat menggambarkan maknanya :

Seekor rajawali akan sulit berkompetisi adu lari menggunakan kedua kakinya dengan seekor harimau. Namun ia akan mampu mengalahkan kecepatan kaki harimau dengan menggunakan sayapnya.

Dalam dunia sekolah, setiap sekolah hendaknya berSURPETISI mengembangkan value sendiri-sendiri. Tidak diperlukan kompetisi, kecuali antar siswa dalam bidang-bidang sesuai minat bakat masing-masing.

Ada begitu banyak issue yang bisa diangkat Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) dimana Sekolahalam berperan aktif dalam “pendidikan” dan “pelestarian alam” seperti issue deforestasi, lenyapnya hutan mangrove di berbagai kawasan di tanah air, lenyapnya rumah tangga tani yang menggiring Indonesia ke pintu gerbang Krisis Pangan, bahkan Krisis Air dan Krisis Energi akibat buruknya Manajemen Pengelolaan Sampah dari Skala Rumah Tangga hingga Skala Nasional.

Sekolahalam punya kesempatan terbuka untuk meneladankan sebuah komunitas pendidikan yang terdiri dari sejumlah orangtua yang peduli pada pendidikan anak-anaknya yang saling bekerjasama dengan memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya potensi serta bakat anak dengan merawat fitrah anak sebagai karunia Sang Pencipta. Sebuah komunitas orangtua yang bergotong royong bersama para fasilitator, mentor dan maestro untuk memupuk kemampuan anak-anak agar kelak dapat menjalankan peran-peran signifikan dalam membangun peradaban dengan skala yang makin luas dan bobot yang makin berkualitas. Unjuk karya siswa menjadi perayaan yang layak diadakan untuk terus memupuk motivasi berkarya, bukan sekadar untuk piala, tetapi untuk hidup yang lebih bermakna.

Ini adalah UNDANGAN bagi Sekolahalam untuk tampil di Garda Terdepan dengan segala potensi dan keunikan siswa dan sivitasnya.

Surpetisi memberikan pesan kepada kita bahwa :

Untuk menjadi pemenang anda tak harus lebih hebat, tetapi anda harus unik. Setiap manusia adalah unik, istimewa, edisi sangat terbatas yang diciptakan Allah SWT, dan setiap manusia akan beramal sesuai dengan keunikan bakat (syakilah) yang ada dalam dirinya.

“Katakanlah : ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut syakilah-nya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya’.” (Q.S 17:84)

Dengan potensi dan bakat yang dimiliki para siswanya yang ditumbuhkan dan dikembangkan secara optimal, Sekolahalam akan mampu bersinar terang berkarya dan berkontribusi menjadi rahmat bagi semesta.

Sebuah Catatan Reflektif
Agustus 2016

Sumber : Fitrah Based Education | Dari Berbagai Sumber