Sistem Pendidikan Yang Memberi Manfaat

Adakah Desa Pertanian Tumbuh Menjadi Kota Pertanian?

menjaga Kearifan budaya lokal

Ketika kita pulang ke desa, ke tanah moyang atau leluhur kita, coba amati dan renungkan.

Desa umumnya hijau dan asri, tenang dan nyaman, jauh dari hingar bingar kota besar.

Namun di balik itu, perhatikanlah baik baik, saat ini desa desa biasanya hanya dihuni orang orang yang sudah sepuh, pemudanya adalah pemuda “sisa”, karena yang pintar dan berani sudah semuanya pergi keluar berjibaku dan melayang layang di kota.

Di banyak desa, kita temukan banyak pesantren yang sepi, kalaupun ada sudah berbeda jauh dengan pesantren masa lalu yang menjadi pusat gairah membangun peradaban desa itu.

Mungkin ada pesantren yang dibangun orang kota dan diisi anak anak menengah ke atas dari kota, namun tidak diniatkan menjadi sirojul muniro di desa itu.

Di desa, kita bisa menemukan banyak tanah tanah kosong dimana mana terbengkalai tak tergarap. Mungkin kita temui beberapa lahan perkebunan atau pertanian tetapi milik “orang kota” atau konglomerat kota, warga desa hanya penggarap di atas tanah leluhurnya sendiri.

Mengapa sistem pendidikan kita tidak menyiapkan anak anak desa untuk mampu membangun desanya? Sejak Indonesia merdeka tidak pernah kita dengar ada desa nelayan menjadi kota nelayan, desa pertanian menjadi kota pertanian, desa perkebunan menjadi kota perkebunan dstnya.

Yang ada adalah desa semakin miskin dan “ditinggal”, sementara kota semakin makmur walau sesak dan tidak layak tinggal.

Di Banten, di sebuah desa, beberapa tahun silam, ada foto foto yang menunjukkan anak anak berseragam merah putih atau biru putih menyeberangi sungai melalui jembatan yang sudah separuhnya roboh.

Mereka, anak anak bersekolah itu, bergelantungan, meniti tali baja yang masih melintang di antara dua sisi jembatan untuk sampai ke salah satu tepi daratan untuk mencapai sekolah atau pulang ke rumah.

Tentu saja, lima sampai sepuluh meter di bawah mereka, menganga jurang atau masih mengalir sungai yang deras dan dalam. Anak anak itu mempertaruhkan nyawanya untuk tetap bersekolah dengan resiko jatuh terluka atau tewas.

Reaksi banyak orang ketika melihat foto foto ini tentu beragam, namun sebagian besarnya mengomentari dengan rasa kasihan, miris, prihatin atas kemiskinan desa itu atau kagum dengan kegigihan anak anak itu bersekolah. Sebagian lagi mengutuki pemda yang lamban merespon.

Namun anehnya, tidak ada yang bertanya “mengapa”, dengan kenyataan bahwa mereka telah mengenyam pendidikan di desa itu dua ata tiga generasi, namun tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri.

Jika kita tinggal di desa itu, barangkali anak anak kita akan mengalami hal yang sama. Kemungkinan besar perilaku kita akan sama dengan para orang tua di desa itu yang membiarkan anaknya meniti tali baja sisa reruntuhan jembatan.

Besar kemungkinan kita akan memacu semangat anak anak kita untuk tetap bersekolah demi masa depan walau harus mempertaruhkan nyawa. Hmmm….

Bukankah kota kota besar juga menyimpan lebih banyak resiko di sepanjang jalan anak anak kita menuju sekolah bahkan di dalam sekolah itu sendiri?

Bully, pelecehan seksual, mental depresi, mental robot dll “hanya” fenomena resiko yang umum terjadi.

Bagi banyak orang, bersekolah menjadi pilihan tak tergantikan walau harus mengorbankan apapun. Resiko besar adalah harga yang pantas untuk meraih masa depan yang besar melalui sistem persekolahan yang tersedia.

Benarkah? Pantaskah bila dibandingkan hasil pendidikan yang kita terima dengan harga yang begitu mahal?

Kembali ke desa di Banten tadi, ternyata hanya beberapa puluh kilometer dari desa itu, ada desa desa yang dianggap terbelakang, yang warganya tidak pernah “makan sekolahan”.

Namun uniknya, mereka mampu membangun jembatan sendiri dengan akar pohon atau bambu bambu panjang.

Suku “terbelakang” itu memang tidak bersekolah formal, namun tentu mereka memiliki sistem pendidikan sendiri, yang secara turun temurun diwariskan dan dimutakhirkan antar generasi sehingga membuat “peradaban” desa mereka mampu mandiri dan berkelanjutan (sustainable).

Bukankah tujuan semua sistem adalah agar mampu mandiri dan berkelanjutan bahkan menebar manfaat? Hanya sistem perbudakanlah yang membuat generasi kita tidak mandiri dan mandeg bahkan mundur walau nampak modern.

Lalu mengapa perdesaan “modern” dengan perangkat sistem persekolahan modern yang ada, yang sudah berdiri mungkin sejak bapak bapak mereka masih anak anak, sampai ketika anak anaknya mengenyam sistem yang sama, tidak mampu membangun jembatan sendiri?

Jangan jangan ketidakmampuan untuk mandiri dan berkelanjutan bahkan berlaku untuk semua hal hal lainnya?

Pertanyaan besarnya adalah, mengapa sistem persekolahan modern yang ada tidak menambah baik peradaban, setidaknya kemandirian dan keberlanjutan desa?

Peradaban seolah berhenti, tidak berlanjut di desa bahkan di kota. Mereka, anak anak kita menjadi generasi robot robot yang menunggu uluran belas kasihan pemda dan pemkab atau pemkot atau pemerintah pusat.

Setamat sekolah menengah sudah dipastikan sebagian besar anak anak yang bersekolah di desa akan menjadi urban di kota besar. Untuk apa?

Ya untuk kembali menengadahkan belas kasihan lowongan pekerjaan yang diberikan negara dan pengusaha konglomeratnya di pusat pusat kekuasaan di kota.

Adik adik pelanjut mereka akan mengulangi lagi perilaku yang sama. Jika ada jembatan yang rubuh, mereka akan meniti lagi reruntuhannya dan hanya bisa menunggu belas kasihan pemerintah setempat, sama persis dengan generasi sebelumnya. Sistem yang mandul.

Sesungguhnya sistem persekolahan yang sama akan melahirkan generasi yang selalu sama. Sistem perbudakan hanya melahirkan generasi budak budak peradaban selamanya. Desa desa akan selalu miskin tak berdaya.

Generasi anak anak kita mendatang, masa depannya akan tak banyak jauh bedanya dengan kita jika mereka menjalani sistem persekolahan yang sama dengan kita.

Sebuah peradaban yang merdeka hanya bisa dibangkitkan melalui sistem pendidikan yang mampu memandirikan dan memberi kemampuan untuk keberlanjutan bagi setiap anak, setiap keluarga, setiap desa melalui potensi-potensi fitrahnya masing masing.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

pendidikan peradaban,pendidikan fitrah,fitrah keyakinan,fitrah bakat,sumber rejeki,kreativitas anak,pendidikan anak di rumah,guru dan murid,orang tua dan anak,karakter anak,dunia pendidikan,renungan pendidikan,ust.Harry Santosa,Fitrah Based Education,Home Education,Home Schooling,ujian nasional,kurikulum sekolah,manusia jenius,golden age.

Share from : Ustadz Harry Santosa | berbagai sumber