Warna pada Kulit Bunglon Memperlihatkan Emosinya

Ketika cahaya mengenai kulit bunglon, sel-sel yang berada di dalam tubuhnya memperlihatkan warna-warna yang berbeda tergantung bagaimana suasana hati hewan itu sendiri.

Bunglon dapat dengan cepat mengubah warna dalam merespons keadaan suhu, lingkungan dan mood mereka. Para ilmuwan baru-baru ini mengidentifikasi sebuah faktor utama dalam kemampuan mereka dalam melakukan hal ini : “kadal ini dapat mengatur jarak antara nanoscale crystal di dalam kulit mereka yang memantulkan cahaya dan membentuk sebuah spectrum warna.”

Susunan kulit yang dibentuk oleh beberapa lapis sel

Sel tersebut yang terbentuk dari kulitnya melakukan hal penting dalam merubah warna kulitnya. Pembesaran sel kulit ini memperlihatkan sebanyak 150 mikron dari kulit bunglon . berukuran sekitar dua kali diameter dari rambut manusia

Di dalam dermisnya, sel-selnya tersusun dari :

Struktur jaringan kulit bunglonStruktur jaringan kulit bunglon (nationalgeographic.com)

Xanthophores : Sel ini mengandung pigmen kuning.

Erythrophore : Sel yang berwarna merah yang biasanya pada area ini kulit bunglon membentuk sebuah garis

Melanophore : Melanin yang berada di dalam sel ini bergerak keatas ketika bunglon ini sedang bersikap tunduk , dan kebawah ketika hewan ini sedang merasa bergairah.

Iridophores : Sel-sel ini mengandung nanocrystals.
Nanocrystals yang transparan, terbuat dari DNA dan membangun block guanine,dari sebuah lattice, ketebalannya, jarak, dan membiaskan yang akan menentukan warana apa yang akan dihasilkan.

Bagian-bagian sel kulit di ...Bagian-bagian sel kulit di dalam jaringan kulit bunglon. (nationalgeographic.com)

Bagaimana warna kulit bunglon berubah

Seekor bunglon mengubah warna kulitnya menjadi lebih gelap ketika mereka membutuhkan sesuatu yang tidak benar telah terjadi, seperti ketika mereka kalah dari perkelahian, dengan melepaskan melanin, sebuah pigmen berwana gelap muncul ke bagian kulit paling atas.

Ketika hewan ini sedang beristirahat (netral), biasanya mereka berwarna hijau atau cokelat dengan menyesuaikan lingkungannya.
Getaran warna dapat dijadikan sebagai isyarat dari serangan tiba-tiba atau sebuah keinginan untuk bercinta. Crystals berpindah ke wilayah yang lebih lebar, memancarkan warna kuning, jingga, dan merah.

Para ilmuwan sudah memikirkan sejak lama bahwa bunglon mengubah watan kulitnya ketika sel pigmen kulit mereka menyebar melalui sel vienlike.
Namun Mchel Milinkovitch, seorang evolutionary geneticist and biophysicist, mengatakan bahwa teori tersebut tidak sesuai denganbanyaknya bunglon berwarna hijau yang tidak memiliki pigmen berwarna hijau di dalam sel kulitnya.

Jadi Milinkovitch dan koleganya dari University of Geneva memulai untuk melakukan penelitiannya dengan menyatukan pengujian fisik dan biologi.
Di bawah lapisan dari sel pigmen kulit, mereka menemukan bahwa lapisan lain dari sel kulit ini mengandung Kristal nanoscale yang tersusun di dalam lapisan lattice segitiga.

Dengan memperlihatkan contoh dari tekanan dan bahan kimia di dalam kulit bunglon, para peneliti menemukan bahwa Kristal ini dapat diatur untuk memberikan jarak diantara mereka. Hal ini dapat menyebabkan perubahan warna yang berasal dari pancarkan cahaya oleh Kristal tersebut.

Ketika jarak antara Kristal meningkat, warna yang terpancar dari warna biru ke hijau kemudian ke kuning ke jingga dan ke merah sebuah kaleidoscopic yang diperlihatkan adalah hal yang biasa dilakukan oleh panther chameleons ketika mereka sedang merasa santai atau terganggu atau sedang jatuh cinta.

(Nisrina Darnila. Sumber: Patricia Edmonds/nationalgeographic.com)

Share from: National Geographics