Contoh Problematika Pendidikan Di Indonesia

126 views

Contoh Problematika Pendidikan Di Indonesia. Kecerdasan Buatan kemungkinan sebentar lagi akan menukar banyak kegiatan yang dijalankan oleh manusia. Kasir, kasir bank, customer support, penerima telepon, travel umroh, kurir barang, serta reporter berita menjadi beberapa contoh pekerjaan yang udah diambil alih alih.

Contoh Problematika Pendidikan Di Indonesia

Bahkan, kegiatan terakhir yang disebutkan itu sedang jadi perbincangan internasional. Salah satu stasiun televisi di Negri Tirai Bambu, Xinhua News Agency, udah menginformasikan reporter yang manfaatkan teknologi Artificial Intelligence. Pembawa berita ini terlihat seperti pria biasa. Mulai berasal dari suara, wajah, ekspresi, hingga pergerakannya sama seperti manusia pada umumnya.

Hal ini tentu mempunyai pergantian besar bagi dunia kerja professional. Tetapi, kalau diteliti lebih mendalam, perkembangan teknologi ini tak meleyapkan secara keseluruhan manfaat manusia, melainkan dapat menambahkan kesempatan baru pada mereka. Itulah yang disampaikan oleh pengusaha berhasil asal Negri Panda, Jack Ma, pada acara Word Economic Forum di Davos, Swiss.

Values, keyakinan, berpikir logis, bekerja berkelompok, dan hiraukan pada orang lain adalah kapabilitas yang tidak dikuasai oleh mesin. Itu sebabnya, aku pikir kita kudu mengajarkan pelajar kemampuan tersebut untuk menegaskan bahwa manusia berbeda bersama dengan mesin.

Ya, pemikiran Jack Ma di atas bukan tanpa sebab. Kejeniusan akademik sebenarnya dibutuhkan oleh manusia untuk menyongsong industry kerja di era mendatang. Namun, penguasaan soft skill termasuk memberi tambahan pengaruh yang memadai besar.

Kunjungi juga: Cara Memahamkan Anak PAUD pada Matematika Dasar

Dengan kapabilitas ini, manusia bisa lebih berpikir logis, berinteraksi, dan juga memecahkan setiap kasus yang nampak bersama analisis yang tidak sanggup ditunaikan oleh mesin. Pendidikan Holistik, begitu makna akademisnya.

Berawal berasal dari persoalan itu, lembaga pendidikan sebaiknya udah merasa membayangkan bagaimana caranya untuk menghasilkan tamatan yang cocok keperluan saat ini dan mendatang. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan proses pendidikan yang termasuk semua segi kehidupan, baik unggul terhadap segi akademik maupun kekuatan yang bersifat afektif.

Sistem pendidikan ini pun dikenal dengan nama pendidikan berkesinambungan. Pendidikan Holistik adalah pendidikan yang tidak hanya mementingkan sisi akademik pelajar, namun termasuk utamakan bervariasi faktor kehidupan supaya anak mempunyai pertumbuhan yang seimbang. Dalam hal ini layaknya penguasaan kebolehan berinteraksi dan kapabilitas menyadari diri.

Penerapan Pendidikan Terintegrasi ini pun berasal dari masalah yang kerap ditemui kebanyakan orang sehabis masuk ke industry kerja.

Oleh sebab itu, kala murid telah masuk dunia kerja atau membawa interaksi yang luas bersama dengan masyarakat, mereka tidak kembali mengandalkan kebolehan akademik secara harfiah.

Misalnya, ketika ada masalah di dalam kerja tim, tak mungkin menyelesaikan kasus cuma bersama dengan kemampuan matematika.

Selain itu, disaat tersedia persoalan dalam suatu proyek, bukan kekuatan science yang ditunjukkan, melainkan cara berkomunikasi dan berpikir nalar guna mendapatkan problem solving yang dibutuhkan.

Hal ini yang lantas disadari betul oleh wali murid bahwa perlunya implementasi proses pendidikan holistik di lingkungan sekolah sedini mungkin. Oleh gara-gara itu, tiap-tiap sekolah harusnya telah menerapkan Pendidikan Menyeluruh mulai berasal dari pendidikan anak usia dini.

Tujuannya sehingga siswa punyai positive mindest dan growth mindset sejak kecil. Selain itu mereka termasuk kita bantu sehingga punyai resiliensi atau ketahanan diri, mempunyai fleksibilitas, dan permohonan untuk terus belajar.

Dalam tipe Pendidikan Terintegrasi, siswa termasuk diajarkan guna selesaikan masalahnya sendiri. Dalam hal ini posisi guru lebih jadi fasilitator pelajar. Tugasnya menambahkan bantuan bersama pertanyaan-pertanyaan kritis, dialog dua arah, dan memberikan sebagian contoh kasus yang serupa.

Diharapkan bersama metode ini siswa jadi lebih mampu berpikir logis dan membawa kemampuan berinteraksi yang baik.

Penguasaan soft skill layaknya yang udah diuraikan di atas, perlu dijalankan dikarenakan perubahan zaman makin tak terbendung. Generasi penerus bangsa pun dituntut untuk ikuti arus perkembangan teknologi agar tidak kehilangan arah di kemudian hari.

Apalagi saat ini Revolusi Industri 4.0 dan jaman digitalisasi sudah melekat terhadap kehidupan sehari-hari. Untuk dapat survive, generasi muda pun perlu punyai soft skill yang sanggup menolong kehidupan jaman depannya.

Pertama, mereka perlu mempunyai kapabilitas dan kebijaksanaan untuk menyaring beragam Info yang didapatkan. Mereka pun kudu kritis pada mengisi informasi berikut supaya tidak ringan terbujuk begitu saja dengan berita hoaks.

Kedua, generasi muda sementara ini butuh kapabilitas komunikasi yang mumpuni. Sebab, pas ini mereka cenderung berkomunikasi secara digital agar kapabilitas berdiskusi dan bicara segera makin lama menurun.

Ketiga, adalah kebolehan untuk beradaptasi dan memiliki pendirian yang teguh. Hal ini karena tantangan yang akan ditemui pada era depan akan lebih berat. Dengan punyai kebolehan adaptasi dan pendirian yang teguh, mereka tidak bakal mudah terbujuk serta tidak punya ketergantungan bersama dengan orang lain.

Diharapkan keluaran yang dihasilkan pun punya kepintaran seimbang, antara kebolehan akademik dan kapabilitas soft skill yang bersifat afektif. Dengan begini, kehadirannya tidak dapat tersubstitusi walaupun teknologi Artificial Intelligent dan teknologi canggih bertebaran dimana-mana di era mendatang.

Penulis adalah pencetus kelas Islamic Math Adventure di SD Islam Khoiru Ummah Malang

Tags: #Kedudukan Agama Dan Pendidikan Agama Di Indonesia

Leave a reply "Contoh Problematika Pendidikan Di Indonesia"

author
Guru Mata Pelajaran Matematika di SD Islam Khoiru Ummah, Kota Malang. Observer di Eksakta Integra Islamica, Kota Bogor