Kondisi Pendidikan Moral Di Indonesia

76 views

Kondisi Pendidikan Moral Di Indonesia. Artificial Intelligence kemungkinan sebentar lagi bakal menukar banyak pekerjaan yang dilakukan oleh manusia. Kasir, teller bank, penerima pelanggan, operator telepon, travel umroh, tukang pos, dan juga reporter berita jadi beberapa semisal pekerjaan yang udah disita alih.

Kondisi Pendidikan Moral Di Indonesia

Bahkan, kegiatan terakhir yang disebutkan itu tengah jadi perbincangan nasional. sebuah stasiun televisi di China Daratan, Xinhua News Agency, udah mengintroduksi reporter yang gunakan teknologi Kecerdasan Buatan. Pembawa berita ini terlihat seperti pria biasa. Mulai dari suara, wajah, ekspresi, hingga pergerakannya sama seperti manusia pada umumnya.

Hal ini tentu membawa pergantian besar bagi industry kerja. Tapi, kalau diteliti lebih jauh, perkembangan teknologi ini tak menghilangkan secara total kegunaan manusia, melainkan bisa mengimbuhkan peluang baru terhadap mereka. Itulah yang disampaikan oleh entrepreneur berhasil asal Negri Tirai Bambu, Jack Ma, dalam acara Word Economic Forum di Davos, Swiss.

Kebijaksanaan, keyakinan, berpikir nalar, kerjasama tim, dan pikirkan pada orang lain adalah kekuatan yang tidak dikuasai oleh mesin. Oleh karena itu, saya pikir kami wajib mengajarkan siswa kebolehan tersebut untuk menegaskan bahwa manusia tidak serupa dengan mesin.

Ya, pendapat Jack Ma di atas bukan tanpa sebab. Kecerdasan akademik memang dibutuhkan oleh manusia guna menyongsong dunia kerja di era mendatang. Tapi, penguasaan soft skill juga memberikan dampak yang memadai besar.

Baca juga: Cara Mengajarkan Anak PAUD pada Matematika Dasar

Melalui kekuatan ini, manusia mampu lebih berpikir logis, berkomunikasi, dan juga memecahkan setiap persoalan yang keluar bersama analisis yang tidak bisa dilaksanakan oleh mesin. Pendidikan Holistik, begitu makna akademisnya.

Berawal berasal dari permasalahan itu, instansi pendidikan seyogyanya udah jadi berkhayal bagaimana caranya untuk menghasilkan jebolan yang cocok keperluan saat ini dan mendatang. Diantaranya ialah dengan menerapkan sistem pendidikan yang termasuk semua faktor kehidupan, baik unggul terhadap sisi akademik maupun kapabilitas yang berbentuk afektif.

Sistem pendidikan ini pun dikenal bersama nama pendidikan holistik. Pendidikan Berkesinambungan adalah pendidikan yang tidak cuma mementingkan sisi kecerdasan akademik anak, tapi termasuk menekankan beragam segi kehidupan agar anak memiliki perkembangan yang seimbang. Dalam perihal ini layaknya penguasaan kekuatan bersosialisasi dan kapabilitas mengerti diri.

Penerapan Pendidikan Holistik ini pun berasal dari persoalan yang kerap dijumpai biasanya orang sesudah masuk ke dunia kerja.

Oleh sebab itu, saat murid sudah masuk dunia kerja atau membawa pertalian yang luas bersama masyarakat, mereka tidak kembali mengandalkan kekuatan akademik secara harfiah.

Misalnya, kala tersedia kasus di dalam kerjasama tim, sangat tidak mungkin menuntaskan kasus hanya bersama dengan kapabilitas matematika.

Lebih dari itu, dikala tersedia masalah didalam suatu project, bukan kebolehan science yang ditunjukkan, melainkan cara berinteraksi dan berpikir logis untuk mendapatkan solusilah yang diperlukan.

Hal ini yang lantas disadari betul oleh orangtua bahwa perlunya implementasi proses pendidikan holistik di lingkungan sekolah sedini mungkin. Oleh dikarenakan itu, tiap tiap sekolah seharusnya telah menerapkan Pendidikan Menyeluruh menjadi dari Pendidikan TK.

Tujuannya agar siswa miliki positive mindest dan growth mindset sejak dini. Selain itu mereka juga kita bantu supaya miliki resiliensi atau ketahanan diri, membawa fleksibilitas, dan keinginan untuk konsisten belajar.

Dalam tipe Pendidikan Berkesinambungan, anak didik terhitung diajarkan guna merampungkan persoalannya sendiri. Di sini posisi guru lebih jadi pendamping pelajar. Assessmentnya memberi tambahan pertolongan dengan pertanyaan-pertanyaan kritis, dialog 2 arah, dan memberi tambahan beberapa contoh persoalan yang serupa.

Diharapkan dengan cara ini anak jadi lebih mampu berpikir logis dan membawa kemampuan bersosialisasi yang baik.

Penguasaan soft skill layaknya yang udah dijelaskan di atas, harus dilakukan dikarenakan perubahan jaman makin tak terkejar. Generasi muda bangsa pun diwajibkan untuk ikuti arus pertumbuhan teknologi agar tidak tersesat di dimasa depan.

Apalagi saat ini Revolusi Industri 4.0 dan jaman digitalisasi sudah menempel terhadap kehidupan sehari-hari. Untuk dapat survive, generasi muda pun kudu memiliki soft skill yang bisa menolong kehidupan jaman depannya.

Pertama, mereka mesti miliki kekuatan dan kebijaksanaan untuk menyaring berbagai informasi yang didapatkan. Mereka pun kudu logis pada mengisi info tersebut supaya tidak gampang terpengaruh begitu saja dengan berita hoaks.

Kedua, generasi muda selagi ini butuh kemampuan komunikasi yang mumpuni. Sebab, sementara ini mereka condong berkomunikasi secara digital supaya kapabilitas berdiskusi dan berbicara segera tambah menurun.

Ketiga, adalah kekuatan untuk beradaptasi dan punya pendirian yang teguh. Hal ini karena tantangan yang akan dihadapi terhadap jaman depan bakal lebih berat. Dengan punya kebolehan adaptasi dan pendirian yang teguh, mereka tidak bakal enteng dipengaruhi dan tidak miliki ketergantungan dengan orang lain.

Diharapkan jebolan yang diproduksi pun memiliki kejeniusan seimbang, antara kebolehan akademik dan kekuatan soft skill yang berupa afektif. Dengan demikian, keberadaannya tidak akan tersubstitusi kendati teknologi Kecerdasan Buatan dan mesin-mesin canggih menjamur di masa yang akan datang.

Penulis adalah pendamping kelas Matematika Terapan Berbasis Qur'an di SD Islam Khoiru Ummah Malang

Tags: #Tujuan Pendidikan Untuk Anak Usia Dini

Leave a reply "Kondisi Pendidikan Moral Di Indonesia"

author
Guru Mata Pelajaran Matematika di SD Islam Khoiru Ummah, Kota Malang. Observer di Eksakta Integra Islamica, Kota Bogor