Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Ki Hajar Dewantara di Kubu

75 views

Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Ki Hajar Dewantara di Kubu. Artificial Intelligence mungkin sebentar lagi bakal menukar banyak kegiatan yang dilaksanakan oleh manusia. Kasir, kasir bank, customer support, penerima telepon, agen perjalanan, tukang pos, serta pembaca berita jadi beberapa umpama kegiatan yang telah disita alih.

Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Ki Hajar Dewantara di Kubu

Bahkan, pekerjaan paling akhir yang dijelaskan itu sedang menjadi perbincangan khalayak ramai. sebuah stasiun pemancar televise di China, Xinhua News Agency, udah memperkenalkan pembawa berita yang manfaatkan teknologi Artificial Intelligence. Reporter ini kelihatan seperti pria biasa. Mulai dari suara, wajah, ekspresi, hingga pergerakannya sama persis manusia pada umumnya.

Hal ini tentu mempunyai pergantian besar bagi dunia kerja professional. Tetapi, apabila ditelaah lebih mendalam, pertumbuhan teknologi ini tak menghilangkan secara total faedah manusia, melainkan bisa memberikan kesempatan baru terhadap mereka. Itulah yang diungkapkan oleh entrepreneur berhasil asal Negri Tirai Bambu, Jack Ma, pada acara Word Economic Forum di Davos, Swiss.

Nilai Islami, keyakinan, independen thinking, kerjasama tim, dan peduli terhadap orang lain ialah kapabilitas yang tidak dikuasai oleh teknologi robot. Oleh sebab itu, saya pikir kami kudu mengajarkan murid kekuatan berikut guna memastikan bahwa manusia berlainan bersama mesin.

Ya, pemikiran Jack Ma di atas bukan tanpa sebab. Kemampuan akademik sesungguhnya diperlukan oleh manusia untuk menyambut dunia kerja di masa mendatang. Tapi, ketrampilan soft skill juga memberikan dampak yang lumayan besar.

Pengunjung juga klik: Metode Mengenalkan Anak TK pada Matematika Awal

Melalui kemampuan ini, manusia bisa lebih berpikir kritis, berinteraksi, dan juga memecahkan tiap tiap masalah yang terlihat dengan analisis yang tidak sanggup ditunaikan oleh mesin. Pendidikan Holistik, begitu istilah akademisnya.

Berawal berasal dari problem tersebut, instansi pendidikan sebaiknya udah terasa membayangkan bagaimana caranya untuk membuahkan lulusan yang cocok kebutuhan zaman. Salah satu caranya ialah dengan menerapkan proses pendidikan yang termasuk seluruh faktor kehidupan, baik unggul terhadap sisi akademik maupun kebolehan yang berbentuk afektif.

Sistem pendidikan ini pun dikenal dengan nama pendidikan menyeluruh. Pendidikan Menyeluruh adalah pendidikan yang tidak hanya mengandalkan segi akademik siswa, tetapi terhitung tekankan beragam segi kehidupan sehingga pelajar miliki perkembangan yang seimbang. Dalam hal ini layaknya penguasaan kekuatan berinteraksi dan kebolehan sadar diri.

Penerapan Pendidikan Berkesinambungan ini pun berangkat dari persoalan yang kerap dijumpai umumnya orang sehabis masuk ke dunia kerja.

Jadi, disaat murid sudah masuk dunia kerja atau mempunyai interaksi yang luas bersama dengan masyarakat, mereka tidak ulang mengandalkan kebolehan akademik secara harfiah.

Misalnya, kala tersedia kasus di dalam team work, tidak mungkin memecahkan masalah hanya dengan kemampuan matematika.

Selain itu, kala ada masalah dalam suatu proyek, bukan kebolehan sains yang ditunjukkan, melainkan cara berinteraksi dan berpikir nalar guna menemukan problem solving yang dibutuhkan.

Hal ini yang kemudian disadari betul oleh wali murid bahwa perlunya mengaplikasikan proses pendidikan holistik di lingkungan sekolah sedini mungkin. Oleh karena itu, setiap sekolah mestinya udah menerapkan Pendidikan Berkesinambungan terasa dari early years.

Tujuannya supaya pelajar miliki positive mindest dan growth mindset sejak awal. Selain itu mereka juga kita bantu sehingga punya resiliensi atau ketahanan diri, membawa fleksibilitas, dan keinginan untuk terus belajar.

Dalam type Pendidikan Terintegrasi, murid termasuk dididik guna merampungkan masalahnya sendiri. Dalam hal ini posisi guru lebih jadi fasilitator pelajar. Tugasnya memberi tambahan pemberian bersama dengan pertanyaan-pertanyaan kritis, diskusi dua arah, dan memberi tambahan beberapa contoh kasus yang serupa.

Diharapkan bersama cara ini anak menjadi lebih mampu berpikir logis dan membawa kekuatan berinteraksi yang baik.

Penguasaan soft skill seperti yang sudah dijelaskan di atas, kudu dilaksanakan karena pergantian zaman kian pesat. Generasi muda bangsa pun diharapkan untuk mengikuti arus pertumbuhan teknologi sehingga tidak kehilangan arah di kemudian hari.

Apalagi saat ini Revolusi Industri 4.0 dan era digitalisasi udah menempel terhadap kehidupan sehari-hari. Untuk mampu survive, generasi muda pun harus punyai soft skill yang bisa mendukung kehidupan masa depannya.

Pertama, mereka wajib punya kebolehan dan kebijaksanaan untuk menyaring beraneka informasi yang didapatkan. Mereka pun mesti logis pada isi info selanjutnya agar tidak mudah terbujuk begitu saja bersama dengan berita hoaks.

Kedua, generasi muda kala ini perlu kemampuan komunikasi yang mumpuni. Sebab, selagi ini mereka cenderung berkomunikasi secara digital sehingga kekuatan berdiskusi dan bicara langsung makin lama menurun.

Ketiga, adalah kapabilitas untuk beradaptasi dan punya pendirian yang teguh. Hal ini gara-gara tantangan yang bakal dihadapi pada era depan akan lebih berat. Dengan miliki kemampuan adaptasi dan pendirian yang teguh, mereka tidak akan gampang dipengaruhi dan tidak miliki ketergantungan bersama orang lain.

Diharapkan output yang dihasilkan pun punya kecerdasan seimbang, pada kapabilitas akademik dan kebolehan soft skill yang bersifat afektif. Dengan begini, keberadaannya tidak akan tersubstitusi kendati teknologi Artificial Intelligent dan mesin-mesin modern bertebaran dimana-mana di era yang akan datang.

Penulis adalah pendamping kelas Matematika Qur'an di SD Islam Khoiru Ummah Malang

Tags: #Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Ki Hajar Dewantara di Kubu

Leave a reply "Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Ki Hajar Dewantara di Kubu"

author
Guru Mata Pelajaran Matematika di SD Islam Khoiru Ummah, Kota Malang. Observer di Eksakta Integra Islamica, Kota Bogor