Teori Perkembangan Anak Usia Dini Menurut John Dewey

109 views

Teori Perkembangan Anak Usia Dini Menurut John Dewey. Artificial Intelligence barangkali kembali dapat menggantikan banyak aktifitas yang ditunaikan oleh manusia. Kasir, teller bank, penerima pelanggan, operator telepon, travel wisata, kurir surat, serta reporter berita jadi beberapa umpama kegiatan yang sudah diambil alih alih.

Teori Perkembangan Anak Usia Dini Menurut John Dewey

Bahkan, aktifitas paling akhir yang dijelaskan itu sedang menjadi perbincangan internasional. Salah satu stasiun pemancar televise di Republik Rakyat China, Xinhua News Agency, udah menginformasikan pembawa berita yang gunakan teknologi Kecerdasan Buatan. Reporter ini nampak seperti pria biasa. Mulai dari suara, wajah, ekspresi, sampai pergerakannya sama persis manusia terlihat pada umumnya.

Hal ini tentu membawa perubahan besar bagi industry kerja. Tapi, bila ditelaah lebih jauh, pertumbuhan teknologi ini tak menghapus secara total fungsi manusia, melainkan mampu beri tambahan kesempatan baru pada mereka. Itulah yang disampaikan oleh entrepreneur berhasil asal Negri Panda, Jack Ma, pada acara Word Economic Forum di Davos, Swiss.

Nilai kemanusiaan, believe, independen thinking, team work, dan pikirkan terhadap orang lain adalah kemampuan yang tidak dikuasai oleh teknologi robot. Oleh karena itu, aku pikir kami harus mengajarkan siswa kapabilitas berikut untuk meyakinkan bahwa manusia tidak serupa bersama mesin.

Ya, pendapat Jack Ma di atas bukan tanpa sebab. Kepintaran akademik sebenarnya dibutuhkan oleh manusia untuk menyongsong dunia kerja di masa mendatang. Tetapi, ketrampilan soft skill terhitung beri tambahan dampak yang lumayan besar.

Kunjungi juga: Cara Mengajarkan Anak PAUD pada Teknik Berhitung Mudah

Melalui kekuatan ini, manusia dapat lebih berpikir kritis, berkomunikasi, dan juga memecahkan tiap tiap kasus yang keluar bersama analisis yang tidak mampu dilaksanakan oleh mesin. Pendidikan Holistik, begitu arti akademisnya.

Berawal dari problem tersebut, lembaga pendidikan seyogyanya udah terasa mengayalkan bagaimana caranya untuk membuahkan tamatan yang sesuai keperluan zaman. Diantaranya ialah dengan mengaplikasikan proses pendidikan yang termasuk semua segi kehidupan, baik unggul terhadap segi akademik maupun kebolehan yang bersifat afektif.

Sistem pendidikan ini pun dikenal dengan nama pendidikan berkesinambungan. Pendidikan Terintegrasi adalah pendidikan yang tidak cuma mementingkan segi akademik siswa, namun termasuk mengedepankan bervariasi segi kehidupan agar siswa mempunyai pertumbuhan yang seimbang. Dalam perihal ini seperti penguasaan kemampuan berinteraksi dan kapabilitas mengetahui diri.

Penerapan Pendidikan Holistik ini pun berasal dari problem yang sering ditemui biasanya orang setelah masuk ke industry kerja.

Maka, saat siswa telah masuk dunia kerja atau membawa interaksi yang luas bersama dengan masyarakat, mereka tidak lagi mengandalkan kebolehan akademik secara harfiah.

Misalnya, disaat tersedia kasus dalam kerja tim, tidak mungkin menuntaskan masalah cuma bersama kapabilitas matematika.

Selain itu, dikala ada masalah dalam suatu project, bukan kemampuan sains yang ditunjukkan, melainkan cara berkomunikasi dan berpikir nalar guna mendapatkan solusilah yang dibutuhkan.

Hal ini yang kemudian disadari betul oleh orangtua bahwa perlunya penerapan proses pendidikan holistik di lingkungan sekolah sedini mungkin. Oleh karena itu, setiap sekolah seharusnya udah menerapkan Pendidikan Terintegrasi merasa berasal dari pendidikan anak usia dini.

Tujuannya agar anak-anak mempunyai positive mindest dan growth mindset sejak awal. Selain itu mereka juga kita bantu agar miliki resiliensi atau ketahanan diri, mempunyai fleksibilitas, dan permintaan untuk konsisten belajar.

Dalam model Pendidikan Berkesinambungan, siswa juga dididik untuk merampungkan persoalannya sendiri. Dalam hal ini posisi guru lebih menjadi pembimbing pelajar. Assessmentnya beri tambahan pemberian bersama pertanyaan-pertanyaan kritis, diskusi 2 arah, dan beri tambahan lebih dari satu misal persoalan yang serupa.

Diharapkan bersama cara ini murid jadi lebih mampu berpikir nalar dan mempunyai kemampuan berinteraksi yang baik.

Penguasaan soft skill layaknya yang telah dijelaskan di atas, mesti dilaksanakan sebab perubahan zaman makin tak terkejar. Generasi muda bangsa pun dituntut untuk mengikuti arus perkembangan teknologi supaya tidak tersesat di dimasa depan.

Apalagi waktu ini Revolusi Industri 4.0 dan era digitalisasi udah melekat terhadap kehidupan sehari-hari. Untuk mampu survive, generasi muda pun harus miliki soft skill yang sanggup menunjang kehidupan era depannya.

Pertama, mereka kudu mempunyai kapabilitas dan kebijaksanaan untuk menyaring berbagai informasi yang didapatkan. Mereka pun mesti kritis terhadap isi informasi tersebut sehingga tidak enteng tergoda begitu saja bersama berita bohong.

Kedua, generasi muda waktu ini perlu kapabilitas komunikasi yang mumpuni. Sebab, waktu ini mereka cenderung berkomunikasi secara digital sehingga kemampuan berdiskusi dan bicara langsung semakin menurun.

Ketiga, adalah kebolehan untuk beradaptasi dan miliki pendirian yang teguh. Hal ini gara-gara tantangan yang bakal ditemui pada era depan dapat lebih berat. Dengan punyai kekuatan adaptasi dan pendirian yang teguh, mereka tidak bakal ringan terbujuk serta tak punyai ketergantungan bersama dengan orang lain.

Diharapkan keluaran yang dihasilkan pun miliki kecerdasan seimbang, pada kekuatan akademik dan kapabilitas soft skill yang berupa afektif. Dengan demikian, keberadaannya tidak akan tergantikan meskipun teknologi Kecerdasan Buatan dan teknologi canggih menjamur dimana-mana di masa mendatang.

Penulis adalah pembimbing kelas Matematika Terapan Berbasis Qur'an di SD Islam Khoiru Ummah Malang

Tags: #Contoh Paragraf Deskripsi Tentang Pendidikan Di Indonesia

Leave a reply "Teori Perkembangan Anak Usia Dini Menurut John Dewey"

author
Guru Mata Pelajaran Matematika di SD Islam Khoiru Ummah, Kota Malang. Observer di Eksakta Integra Islamica, Kota Bogor